Anehnya, setelah percakapan dengan Ayu tempo hari, hal-hal asing selain perampok WiFi dengan mulut bermotor yang rebahan di siang hari mulai terjadi di rumahku.
Awalnya, aku hanya mendengar suara kerit keras yang berulang dari luar kamar, seperti tikus yang menggerogoti barang keras. Jika tidak tahu bahwa pilar kayu di rumahku lebih keras dari kerikil yang tercampur dalam nasi kiriman Pak Man, aku akan mengira bahwa ada tikus super besar yang menggerigitinya.
Kemudian, aku mulai mendengar suara lirih lantunan gending Jawa yang sangat indah. Pertama kali mendengarnya, aku berpikir bahwa penyanyinya sangat berbakat. Aku menemukan diriku sendiri mengagumi nyanyiannya, menimbang bagaimana reaksi juri jika pemilik suara ini ikut kontes bakat.
Namun kemudian, aku tidak dapat menahan diri untuk menarik selimutku hingga menutupi kepala.
Aku bersembunyi di dalam lindungan selimutku yang tipis, yang bahkan tidak dapat menahan sinar redup dari lampu kamarku.
Lamat-lamat aku sadar mengenai berapa aneh situasi ini. Pekarangan rumah ini sangatlah luas. Mustahil mendengar tetangga dari rumah mereka, bahkan jika mereka berteriak-teriak seperti tempo hari, ketika ada ular yang masuk ke wc tetangga sebelah. Jadi, dari mana asalnya suara nyanyian ini?
Lebih-lebih, semakin lama, semakin jelas tiap kata yang dinyanyikannya.
Tak Lelo, Lelo Ledung
Wes Menengo anakku Si ******
Kakangmu Lagi Lungo Menyang Kali
Nggowo Nyowo, Nyangking Jaring
Wes Menengo, Ono Nyai