Aku bangga pada penilaianku terhadap orang.
Saat aku membuka mataku kembali karena merasa tidak nyaman dengan udara yang semakin panas, Ayu masih duduk di tempatnya semula. Laptopku terbuka di hadapannya. Matanya fokus. Dia bahkan tidak menoleh ketika aku merangkak ke sampingnya.
Sudah aku duga.
Dia memang bukan anak yang mempunyai pikiran paling bersih, tapi juga bukan tipe nasabah yang akan melarikan diri setelah menerima uang pinjaman.
"Candy Crush?"
"Yah. Ngga ada pilihan lain. Antara Candy Crush, Purple Place, atau Stardew Valley. Anak SD anggak akan mau main ini."
Aku mendengkus. Semua game yang asik ada di hp-ku. Mulai dari horror game hingga yang paling sering aku mainkan, otome game. Namun, tentu saja aku tidak akan membiarkan anak SMA memainkan game adiktif sejenis itu.
Sementara mengabaikan Ayu yang terus mengomel tentang betapa ia telah tertipu oleh kesepakatan di antara kami, aku mengedarkan pandangan ke hamparan pohon jati di belakangku. Tidak terlalu luas untuk disebut hutan, tapi jelas bukan ukuran yang dapat disebut sebagai kebun halaman belakang.
"Halaman depan selalu berumput, tapi kenapa di sini selalu bersih?"
"Karena orang-orang ngarit di belakang sini."
"Huh? Aku nggak pernah liat?"
"Semenjak Mbak datang, mereka nggak lewat gerbang depan. Takut kalau Mbak merasa tidak nyaman."
"Terus, mereka lewat mana?"
"Loncat pagar."
Ayu menunjuk pagar rumah dengan ibasan tangannya.
Pagar rumahku hanya setinggi dada orang dewasa, dengan hiasan berbentuk telur pada ujung atas setiap penyangga yang berjarak dua meter, membentang dari halaman depan rumah hingga garis berakhirnya jajaran pohon jati.
Bahkan untuk ukuran anak kecil, melompati pagar itu tidak akan sulit. Beda cerita jika seseorang harus melempar karung penuh rumput ke baliknya.
"Bilang ke mereka untuk lewat depan. Aku nggak keberatan."
Hari ini rumah sepi karena para tukang libur untuk rewang di rumah tetangga. Jika pekerjaan mereka di rumahku sudah selesai dan Ayu tidak kesini lagi selama libur akhir tahun ajaran, aku akan benar-benar sendiri.
Walau hanya selintas, lebih baik untuk menerima kehadiran manusia lain.
Ayu melipat laptopku lantas mengalihkan tatapannya padaku. Matanya penuh curiga.
"Jujur saja Mbak. Ada 'sesuatu', kan?"
Aku menerkam dua pasang jari telunjuk dan tengah Ayu ketika dia membuat tanda kutip lagi.
Dia memekik tatkala jari-jarinya teremas dalam genggamanku.
"Jangan bodo, deh, Yu!"
"Jangan bohong lah, Mbak! Wajahmu pagi ini tuh penuh dengan terror. Tau, nggak? Terror!"
Anak ini ternyata tajam juga.
Tanpa membantah maupun membenarkan perkataan Ayu, aku berdalih.
"Itu wajah kurang tidur! Kurang tidur!"
Ayu mamanyunkan bibir. Mencibir.
Sejujurnya, aku sedikit penasaran. Penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di rumah ini.
Jika menurut Ayu: hantu.
Hantu yang seperti apa?
Sebeberapa parah?
Namun, egoku menahanku untuk bertanya.
Hingga Ayu pulang untuk makan siang, aku tidak membuka mulut. Baik untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan Ayu mengenai kecurigaannya terhadap gangguan yang aku terima.
Berkat resolusi tutup mulut tersebut, aku mendapat jawaban tanpa harus menerima malu di hadapan anak yang lebih muda dua belas tahun dariku.
Informasi itu datang dari warung beratap pendek di gang sebelah.
Ayu mengajakku ke sana tempo hari untuk membeli mie instan. Rupanya, warung ini tidak hanya menjual berbagai macam kebutuhan, seperti warung kelontong seperti biasanya, tapi juga berbagai minuman instan dingin dan kopi. Kadang-kadang, pemiliknya juga menjual nasi dengan lauk sesuai mood.
Untuk memesan hidden menu ini, aku tinggal mengatakan password pada pemiliknya.