RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #7

Pesan

Seperti yang aku perkirakan, rumah menjadi sesepi pemakaman setelah para tukang selesai melakukan pekerjaan mereka. Ayu juga tidak datang semenjak menerima raport. Aku harap nilainya jelek sehingga alasannya tidak bisa datang adalah karena dimarahi habis-habisan di rumah.

Menghela napas, aku merebahkan diri di tengah teras, demi meluruskan punggung dan kaki yang memangku laptop dalam beberapa jam terakhir.

Aku membuka lebar-lebar dua pintu dan empat jendela bagian depan rumah. Karena lahan di sisi lain jalan adalah persawahan, dan rumah ini memiliki pagar rendah, angin dari arah barat masuk dengan bebas. Sebuah kemewahan untuk pemilik rumah yang tidak dapat memasang AC tapi harus bertahan di tengah gempuran hawa panas tiga hari terakhir.

Dalam kesadaran yang hilang-timbul karena kantuk aku mendengar suara notifikasi dari ponselku.

Dari ibu.


Pulanglah untuk mengambil baju.


Aku menatap pesan itu dalam waktu yang cukup lama.

Kepindahanku ke rumah ini memang langkah yang sembrono. Aku sadar keputusanku didasari oleh amarah. Karena itulah, saat aku naik ke gerbong kereta api, lima hari sebelum jadwal yang ditentukan, aku tidak membawa banyak barang. Hanya baju yang melekat di badan dan dua pasang baju bersih serta beberapa dalaman di dalam tas. Lainnya adalah keperluan kerja.

Aku bahkan tidak membawa alat kebersihan diri karena toh alat-alat itu bisa dibeli di manapun.

Selama tinggal di sini, aku bertahan pada proses cuci-kering-ganti, dengan bergantung pada terik matahari.

Alasan lain, aku tidak yakin akan kerasan. Aku terbiasa hidup di kota yang menyediakan segala kebutuhan dalam sekali klik. Hidup mandiri di kota tidak bisa dikatakan sepenuhnya mandiri selama punya uang. Tapi kata temanku yang selalu menghabiskan masa liburan di rumah neneknya di desa, tidak ada hal yang lebih mengulur waktu tapi menguras tenaga selain tinggal di desa.

Hal yang paling dia benci adalah kamar mandi neneknya yang berada di luar rumah, sama seperti kamar mandi di rumah ini. Hanya saja, kamar mandi rumah nenek temanku ini diisi ikan hias kecil. Kodok sebesar kepalan tangan selalu menunggunya di sudut kamar mandi setiap kali dia buang air kecil.

Lihat selengkapnya