RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #8

Anak Laki-Laki

"Anak ini sedang puber atau gimana?"

"Ugh. Tante ini menopause ya?"

Ayu kembali menginvasi rumahku setelah tidak muncul selama tiga hari. Wajah yang awalnya sudah sekecut asam Belanda, tambah berlipat-lipat. Bibirnya manyun. Handphone yang biasanya tak henti-henti menayangkan video YouTube, kini tergeletak di sisi tubuhnya.

Aku tak mengindahkannya. Meladeni anak SMA yang bahkan tidak mempunyai ikatan darah denganku tidak akan ada untungnya.

"Mbak nggak penasaran aku pergi ke mana?"

"Nggak."

Aku mendengar suara gedebak-gedebuk dari sofa baruku.

Khawatir jika sofa yang tidak mempunyai masa garansi akan rusak sebelum aku sempat meletakkan bokong di atasnya, aku menambahkan.

"Tapi kalau kamu mau, cerita saja. Walau bukan berarti akan aku dengarkan juga."

Tanpa tarik-ulur tawaran, Ayu segera mengeluarkan bom di hatinya.

"Queensha itu! Tiba-tiba saja dia telepon. Mengajak ke Heaven. Mbak tau, kan? Kafe yang lagi viral itu? Pasti Mbak belum tau karena belum lama di sini, kan?"

"Ya. ya. Nggak penting juga."

"Jadi si Queensha itu! Aku pikir, karena dia yang ajak, dia juga yang akan traktir. Tapi ternyata aku harus bayar sendiri!"

Ayu melanjutkan omelannya walau aku sudah bilang bahwa belum tentu akan aku dengarkan.

"Harusnya aku tahu! Orang yang membawa uang saku walau sudah sepakat untuk membawa bekal pasti akan melakukan hal ini. Penghianat! Aku duduk di sana selama dua jam tanpa minum. Cuma untuk mendengarkan rencana liburannya ke rumah tantenya di Ausie!"

Ayu membenamkan wajahnya ke bantal. Terisak-isak.

Ah, anak SMA. Haus akan validasi, takut jika ditinggal sendiri.

Mulai pertengahan tahun ini, Ayu akan menjadi siswa kelas dua. Setahun lagi, dia akan disibukkan dengan persiapan kuliah. Tidak akan ada waktu untuk memikirkan hal lain. Setahun. Dia hanya akan melewati masa labil ini dalam kurun waktu setahun.

Saat kehidupan akademik yang hectic itu selesai, tiba-tiba saja dia akan sadar bahwa dia sudah menjadi orang dewasa. Kekhawatiran yang ia rasakan hari ini hanya akan menjadi kenangan yang konyol.

"Cukup jangan berteman dengannya saja."

Ayu mengangkat kepala. Wajahnya kering tanpa jejak air mata.

"Perkataan orang yang nggak punya teman."

Lihat selengkapnya