Nasib burukku sudah terukir sejak ayah dan ibuku menikah.
Ayahku, laki-laki dari desa sebelah, tidak disokong oleh bebek yang baik. Ayahnya hanyalah seorang buruh tani, sedangkan ibunya meninggal sejak melahirkan anak kelima di usia lanjut.
Karunia terbesar dalam hidupnya adalah kecerdasannya yang tidak biasa, sedangkan nasib buruknya, tidak, lebih tepat jika aku menyebutnya sebagai kutukan. Kutukan dalam hidupnya adalah jatuh cinta pada wanita yang jauh lebih kaya darinya.
Apa yang dipikirkan ayahku ketika menerima ibu di bawah lindungannya? Apa yang mendorongnya terus melangkah di jalan pernikahan yang berduri ini?
Alasan apa pun yang dapat aku pikirkan tak ada yang masuk logika. Karena bahkan jika ayahku sangat mencintai ibu, aku ragu cinta itu tak akan layu setelah diguyur hinaan yang selalu menghujaninya.
"Anak kere! Jangan besar kepala, kau! Kau pikir seorang anak kere bisa sukses? Hartamu sekarang itu berasal dari hartaku, tau! Takdirmu itu menjadi buruh tani seperti bapak dan saudara-saudaramu."
Aku ingat betul hinaan-hinaan nenek yang ditujukan pada ayah. Mereka tak hanya menancap di hari sasarannya, tapi juga melesat ke hatiku yang merupakan orang yang paling mengasihi ayah si rumah itu.
Ayahku yang malang bekerja siang-malam. Di masa yang tidak aku ingat, usahanya maju dengan sangat pesat. Semenjak aku dapat mencicipi kenikmatan dunia, aku memiliki kemewahan untuk memiliki segala sesuatu yang aku inginkan. Semua berkat usaha ayah.