Ayu datang keesokan paginya. Tampaknya tahu bahwa aku sudah pulang sejak kemarin dan bergegas untuk menagih jatah oleh-olehnya, hanya untuk menemukan bahwa rumahku yang dapat dikatakan kosong sudah dalam keadaan porak-poranda.
Dia berlari keluar dengan panik setelah melihat ponselku yang pecah dan kasurku yang berantakan.
Aku bisa mengira apa yang dia pikirkan saat itu. Kamar seorang gadis yang tinggal sendiri berada dalam kondisi yang sangat tepat dikatakan sebagai TKP kriminalitas, sementara sang gadis yang seharusnya tinggal di sana, menghilang.
Untungnya, aku yang masih bertahan di hutan jati, melihat Ayu berlari keluar dari pintu dapur sehingga kejadian dimana dia memanggil Pak Man dan para tetangga untuk datang ke rumah dapat dicegah.
"Yu!"
Aku memanggilnya dengan sekuat tenaga, tapi suara yang keluar dari tenggorokanku tak lebih keras dari knalpot brong milik bapak-bapak yang biasa merumput di halaman belakang.
Walau begitu, Ayu yang sudah mencapai halaman depan, berbalik. Wajahnya pucat pasi. Napasnya tersengal akibat berlarian dan guyuran adrenalin. Setelah melihatku yang pasti terlihat sangat tidak manusiawi, hal pertama yang ia lakukan setelah berhasil meraihku adalah melihat keadaan dari setiap inci tubuhku.
"Mbak kenapa? Ada apa? Mbak nggak apa-apa?"
Aku diam, masih bersandar lemas pada batang pohon jati sementara Ayu memeriksa bagian dalam kakiku.
"Siapa, Mbak? Siapa laki-laki yang melakukan ini? Apa ada hubungannya dengan anak laki-laki yang selama ini Mbak cari?"
Saat Ayu mulai meracau tentang "anak laki-laki yang aku cari", air mataku keluar tanpa dapat aku tahan.
Ayu yang mengartikan air mataku sebagai pertanda bahwa kecurigaannya benar, segera memelukku. Bahunya naik-turun. Tak perlu waktu lama, dia terisak-isak.
Kami menghabiskan waktu yang lama dalam dekapan satu sama lain. Ketika pada akhirnya air mata dapat menguras kabut di kepalaku beserta ketegangan yang aku pikul sendiri semalaman tadi, menyisakan tubuhku yang tak berdaya dan lelah, aku membuka mulutku.