Malam itu, aku tidur di kamar Ayu.
Tanpa aku ketahui, Ayu telah bercerita pada orang tuanya bahwa aku terlihat kurang enak badan sekembalinya dari kota. Pak Man dan istrinya, sebagaimana orang baik kebanyakan, memaksaku untuk menginap.
Di sisi lain, aku yang terlalu takut untuk pulang, mengiyakan tanpa perlu berpikir.
Namun, setelah malam ketiga aku membuat Ayu tidur di matras tanpa ranjang di bawahku, aku tidak dapat menepis rasa bersalah yang muncul di hati. Maka pada hari keempat, aku memutuskan untuk berpamitan.
"Kalau begitu, aku ikut Mbak."
"Ngapain?"
"Ngapain?" Ayu meniruku dengan gaya mencemooh. "Sejak kejadian waktu itu, mana mungkin aku membiarkan Mbak kembali ke rumah berhantu itu sendiri? Tidak. Tidak. Hati ini tidak akan tega. Bagaimana jika Mbak diserang lagi oleh hantu penunggu rumah itu di saat tidak ada orang lain yang bisa menolong Mbak? Apakah Mbak bisa melawan hantu-hantu itu ketika mereka kembali-"
"Oke. Oke. Kamu boleh ikut."
"Yes!"
Tanpa mengulur waktu, Ayu menarik ranselnya dari lemari dan memasukkan beberapa barang ke dalamnya. Dari gerakan cepat tangannya yang sulit ditangkap mata, aku yakin aku melihatnya memasukkan rantai dan botol kaca kosong.
Bocah ini mau melakukan exorcism atau gimana?
"Lagian tempat tidur Mbak cukup besar untuk dua orang. Tenang saja. Aku tidur seperti princess kok."
"Yu, aku sudah melihatmu tidur selama tiga malam. Siapa yang kamu coba bohongi?"
"Yah... Atau kalau Mbak keberatan, aku bisa tidur di tikar. Dan lagi, Mbak butuh bantuan untuk bersin kamar, kan? Mbak punya sprei ganti? Mau aku pinjami? Tapi aku tidak yakin akan muat..."
Melihatnya yang melompat ke sana ke mari, aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar berniat menemaniku kembali ke rumahku yang berhantu atau sedang merencanakan plesiran selama liburan. Biarpun begitu, aku tidak bisa menggodanya seperti biasa karena aku tahu bahwa aku akan segera memerlukan tenaganya.
"Wow. Kayaknya terakhir kali kondisinya nggak separah ini."
Melihat Ayu yang tidak bisa menutup mulutnya, aku hanya bisa menahan napas. Kamar yang menjadi korban ledakan emosiku, lalu aku tinggalkan karena ketakutan, tak ubahnya ruangan yang baru dimasuki hewan buas. Bantal tergeletak di dekat dinding, sebagian kapuknya keluar dengan mengenaskan, sepreiku sobek di dua tempat, dan ranselku tergantung di ujung atas lemari, bertahan pada satu tali yang tersangkut.
Ayu memungut ponselku. Kondisinya masih semengenaskan saat terakhir kali aku melemparnya. Ketika aku menekan tombol daya, layarnya berkedip dua kali sebelum benar-benar mati.