RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #15

Ibu

"The well." Ayu menyesap susu kondensasinya. "Nggak terjadi apa-apa, tuh. This whale situation sound like a lie."

"Ada apa dengan cara bicaramu, sih?"

Ayu meletakkan gelasnya. Menghela napas panjang-panjang.

"Nggak ada progres sama sekali sejauh ini."

"Nggak ada kemajuan karena informannya nggak becus, kan?"

"Bukankah ini saat yang tepat untuk mengambil langkah lebih berani?"

"Ini saat yang nyaman buatku, tuh!"

Bohong.

Sejujurnya, sejak aku kembali ke rumah dengan Ayu, aku sudah berulang kali menarik rambutku, memukulkan dahiku ke dinding, dan menggigiti kuku-kukuku. Karena dalam keadaan yang menurut Ayu tidak terjadi apa-apa, aku melewati hari-hari yang penuh teror!

Ketika aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja aku sudah berdiri di pintu depan. Ketika aku merebahkan badan, kasur yang empuk berubah menjadi lantai dapur. Aku tidak bisa duduk di kursi kerjaku lebih dari satu menit karena di detik kelima puluh empat, pantatku akan terasa gatal seperti digigiti kutu kasur.

Saat ini saja, aku menahan diri untuk mengguncang bahu Ayu sambil berteriak.

"AKU SUDAH MAU GILA RASANYA! APA MAKSUDMU TIDAK TERJADI APA-APA?"

Rasanya seperti aku terjebak dalam game psikologis seorang diri.

Kenapa hanya aku yang diganggu? Lebih baik jika Ayu juga mengalaminya. Paling tidak kami bisa saling rangkul dalam kengerian yang sama.

Aku menghela napas.

Tidak. Jangan berpikir seperti itu. Dengan Ayu mau menemaniku di rumah itu saja sudah sangat membantu.

"Jadi, Mbak mau bagaimana sekarang?"

Aku ingin pindah.

Sungguh.

Aku ingin keluar dari rumah itu. Kalau perlu membakarnya sebelum pergi.

Namun, angka di ATM yang tertera ketika aku melihatnya kemarin telah berhasil mengikat kakiku.

Lihat selengkapnya