Tinggi ibuku tidak lebih dari seratus lima puluh senti. Dia menyukai pakaian dengan bahan yang mengkilap. Kebiasaannya adalah memakai aksesoris berbahan emas di delapan jarinya, di kedua pergelangan tangannya, dan di lehernya, menggantung hingga tulang selangka.
Ibuku menonjol di manapun dia berada. Terlebih di desa yang kebanyakan penduduk perempuannya menggunakan daster sebagai seragam wajib.
Oleh karena itu, aku langsung mengenalinya yang berdiri di depan pagar rumahku bahkan dari jarak dua puluh meter.
"Mbak. Sepertinya ada tamu."
"Ibuku."
"Oh."
Aku meminta Ayu menunggu di bawah pohon mangga milik tetangga sementara aku terus melangkah maju.
Pertemuan ini akan berakhir buruk. Aku tidak ingin Ayu menyaksikannya dalam jarak dekat.
"Ngapain Ibu ke sini?"
Mata di bawah poninya memutar.
"Begitu caramu menyambut ibu?"
"Aku belajar dari orang tua."
Ibuku mendengkus. Salah satu sudut bibirnya terangkat.
Ekspresi yang sangat mirip dengan yang biasa aku tampilkan. Melihatnya di wajah orang yang aku benci membuat bubur yang baru aku konsumsi naik ke ulu hati.
"Kamu pergi tanpa pamit. Ibu khawatir."
"Ah. Bull!"
"Adriani!"