"Wow!"
Ini adalah kali kesekian Ayu menggumamkan rasa takjubnya.
"Astaga!" Dia mendecak. "Mbak. Keluargamu chaotic luar dalam."
Aku menerima sanjungannya sepenuh hati. "Yah. Makasih."
Aku sangsi Ayu pernah memegang pucuk rambut ibunya, mengingat ia berasal dari keluarga cemara dengan tingkat matriarkal yang tinggi.
Membayangkannya menggores bagian tubuh istri Pak Man? Di luar nalar.
Menyaksikan orang dewasa yang beberapa hari ini tinggal bersamanya saling jambak dengan ibunya seolah berusaha mengelupas kulit kepala masing-masing pasti telah mengguncang batinnya.
Apa pun cemoohan yang akan dilontarkan Ayu, aku tidak akan membalasnya. Toh tidak ada hal positif dari keluarga ini yang patut dijaga.
"Apa hubungan kalian memang selalu seburuk itu? Maksudku, Mbak dan ibnya Mbak."
"Tidak juga."
"Oh, ya?"
"Paling tidak, dulu kami tidak saling bicara."
Ayu menatapku muak.
"Tapi... Sepertinya ibu Mbak masih peduli. Buktinya dia jauh-jauh datang ke sini."
"Kamu nggak dengar percakapan kami, ya?"
"Nggak. Aku langsung lari pas liat Mbak kena tampar."
Oh. Pantas.
Aku merebahkan diri ke kasur. Ketegangan di tubuhku hilang, tapi kabut di kepalaku masih setebal sebelumnya.
"Lebih mudah jika dia bersikap acuh seperti dulu.
Kenapa membuat hidup satu sama lain tambah susah dengan berpura-pura?
Toh kami sama-sama tau dia tidak melakukannya dengan sepenuh hati."
Kalimat demi kalimat penyesalan dan lelah berputar di kepalaku hingga pada akhirnya, aku sampai di satu titik.
Ah, seandainya ibu dan nenek tidak ada.
Seandainya tinggal aku sendiri saja.
"Mbak!"
Seandainya ada cara agar mereka pergi bersama. Saat ini juga.
"Mbak! Mbak!"
Apakah hidupku bisa lebih bahagia?
Tidak. Aku tidak berharap untuk bahagia. Cukup lepas dari keadaan yang menyesakkan ini saja...
"Mbak! Ada gempa!"