RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #18

Keluarga Yang Hilang (2)

Hubungan ayah dengan saudara-saudaranya tidak terlalu baik, terlebih kakak laki-laki tertuanya. Konon katanya, karena mereka tidak merestui pernikahan ayah dan ibu.

Aku tidak berada di pihak yang dapat menghakimi. Jika menjadi salah satu dari mereka, aku juga akan melakukan hal yang sama.

Karena itu, aku tidak menaruh kesal walau yang kerap menanyakan kabar terakhirku hanyalah adik perempuan terkecil ayah, sedangkan kakak tertuanya tidak pernah mengunjungiku sejak lima belas tahun lalu.

Setelah menurunkan Ayu di depan sekolahnya, Mbak Esta mengantarku ke rumah kecil di desa lain yang juga tidak pernah aku kunjungi. Rumah model lama dengan pondasi pendek yang khas. Halamannya penuh bunga lokal yang bisa tumbuh liar di pinggir jalan.

Mbak Esta mematikan mobilnya di bahu jalan karena halaman rumah terlalu kecil untuk dimasuki.

Ketika kami baru turun dari mobil, seorang wanita paruh baya menengok dari pintu rumah.

"Cari siapa ya?"

"Saya Adriani, Bude."

"Adriani? Oh! Anak perempuanku Adriani!" Wanita yang ternyata merupakan istri pakdeku memakai sandalnya dengan terburu-buru. Ia berteriak pada seseorang yang berada di dalam rumah. "Pak! Pak! Adriani datang!"

Mendengar seseorang yang bahkan tidak mengenali wajahku mengakuiku sebagai anaknya terasa aneh. Namun, aku tetap membalas pelukannya dengan hangat. Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang sangat mirip dengan ayahku, hanya saja lebih tua dan kurus, muncul dengan wajah sumringah.

Oh, jadi seperti ini rasanya disambut oleh keluarga?

"Pakde sudah dua kali datang ke rumahmu, tapi kamu tidak ada. Seharusnya kamu datang ke rumah Pakde dulu. Kamu tahu betapa khawatirnya aku ketika mendengar kamu tinggal di rumah itu sendiri?"

Mendengarkan gerutuan panjang Pakde, aku hanya bisa tersenyum canggung. Bingung mau menjawab apa. Kita kan tidak pernah dekat. Tidak mungkin aku berkata seperti itu.

"Mengenai apa yang Pakde dikatakan padaku tempo hari."

Untungnya Mbak Esta membuka suara terlebih dahulu. Dia menatapku dan Pakde bergantian. Ekspresi wajahnya serius.

"Saya pikir, sebaiknya kalian bicarakan secepatnya. Karena itu saya bawa Adriani ke sini."

Suasana berubah menjadi berat dalam seketika. Pakde menundukkan kepalanya dalam-dalam, sementara bude menghela napas.

"Ya. Memang seharusnya begitu." Pakde memegang kedua bahuku. "Adriani, Pakde ingin kamu keluar secepatnya dari rumah itu."

"Tunggu! Maksud Pakde?"

"Aduh. Aduh. Kenapa membicarakan hal ini di luar? Ayo masuk dulu!"

Bude menuntun kami ke dalam.

Setelah semua duduk di kursi anyaman rotan dan masing-masing menerima segelas teh manis, barulah aku kembali bertanya.

"Maksud Pakde apa? Saya harus keluar dari rumah itu?"

"Iya. Kalau bisa secepat mungkin. Rumah itu tidak normal."

Bude menepuk lengan Pakde. "Jangan bicara begitu. Adriani bisa salah paham."

Lihat selengkapnya