Mendengar panggilan 'Mbah', yang terlintas di kepalaku dan pastinya sebagian besar orang normal lainnya pastilah gambaran orang yang sudah tua. Jika disandingkan dengan kata 'dukun', gambarannya menjadi sedikit lebih spesifik. Mungkin orang tua yang berpakaian serba hitam, berbau kemenyan, tidak banyak bicara, dan misterius.
Siapa yang menyangka bahwa Mbah Surip adalah laki-laki berusia tidak lebih dari empat puluh tahun, berambut hitam panjang (atau mungkin itu hasil semir rambut?), bermata liar seperti orang yang kecanduan judi online, dan suka nyengir.
Semua foto yang terpajang sepanjang ruang tamu menampilkan dirinya yang nyengir di samping orang-orang berpenampilan necis.
Aku sendiri belum berkesempatan untuk bertatap muka dengannya. Soalnya semenjak tiba satu jam yang lalu, dia tidak keluar dari ruang pedukunannya.
"Silahkan duduk, Kak."
Tanpa menoleh ke asisten Mbak Surip yang sedari tadi menemaniku di ruang tamu, aku kembali bertanya.
"Kenapa mereka lama sekali di dalam?"
"Tolong tunggu sebentar lagi. Waktu konsultasi memang biasanya lama."
"Kenapa pakdeku yang konsultasi? Yang punya masalah aku, tuh?"
Asisten tertawa kecil. Aku bisa merasakan campuran kesal di dalamnya. "Hanya member yang bisa konsultasi di luar jam praktek."
Aku menoleh. "Member?"
Dukun juga punya membership?
Asisten mengangguk.
Aku menunjuk foto-foto di sepanjang dinding. "Jadi, apa mereka ini member premium?"
"Ahahaha. Mana mungkin kami memajang foto member? Kami menghargai privasi klien-klien kami. Itu... Eh, Teman-teman guru kami. Beliau memang terkenal."
"Gurumu berteman dengan Bupati?"
Asisten mengusap peluh di dahinya yang berjerawat. Walau senyum tak lepas dari bibirnya, wajahnya jelas terlihat tak nyaman.
Siapa suruh kalian melakukan diskriminasi?
Aku kembali duduk di kursiku, hendak meminum kopi yang sejam terakhir tidak tersentuh. Namun, setelah melihat cairan kental berwarna hitam pekat di dalamnya, aku mengurungkan diri.
"Hei, selain jadi asisten, kamu juga disuruh jadi assasin, ya?
"Maaf?"
"Bukan apa-apa."
Aku menatap si asisten lekat-lekat. Usianya tampak jauh di bawahku. Berkacamata bingkai bulat. Tinggal menambah luka di dahinya, dia bisa jadi Harry Potter sungguhan.
Jika dia bisa sihir sungguhan juga.
Sejujurnya, semenjak tiba di rumah ini, aku mendapat suatu pencerahan.
Apa yang sebenarnya aku lakukan?
Pergi ke rumah dukun?
Hanya karena dorongan saudara yang sama asingnya dengan anak anjing tetangga?
Terlebih, rumah yang kami kunjungi ini tidak selayaknya rumah dukun kebanyakan. Semua serba putih, dengan pilar-pilar besar seperti gedung pengadilan Yunani kuno.