RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #20

Ritual (2)

Tanpa menunggu jemputan Mbak Esta, aku memesan taksi online dan meluncut dari kediaman Mbak Surip secepat kilat.

Tidak perlu kembali ke rumah pakde.

Aku punya firasat bahwa di detik aku bertemu dengan bude, kesempatanku untuk melarikan diri akan semakin tipis.

Mengingat percakapan terakhirku di rumah Mbak Surip saja sudah sangat merepotkan.

"Dengar, Adriani. Ini adalah kesempatan bagus. Kamu bisa menjual rumah itu dan segera pindah. Pakde juga bisa lebih tenang."

"Tapi..."

"Tenang saja, saya pastikan Nak... Siapa?"

"Adriani."

"Nak Adriani akan dapat harga yang pantas. Hohoho."

"Kalau begitu biar saya pikir dulu."

"Adriani. Sebenarnya Pakde tidak ingin kamu tinggal di sana lebih lama. Kalau bisa kita selesaikan hari ini juga. Biar kamu segera aman."

Sial.

Aku hampir saja terjebak penipuan properti.

Parahnya, yang menjadi makelar adalah pakdeku sendiri, orang yang semalam masih menjadi tempatku menyandarkan harapan terbesar.

"Bahaya keuangan paling besar memang kerabat jauh yang tidak pernah ada kabar."

Ayu berbicara dengan sedotan masih menancap di bibirnya. Tangannya memangku pipi. Matanya memandang kejauhan.

"Aku tidak menyangka bisa ditipu orang terdekatku dua kali berturut-turut."

"Siapa satunya?"

"Kamu."

"Aku?"

"Ya. Kamu! Kenapa kamu bohong kalau ternyata ini hari pertamamu masuk sekolah?"

"Aku nggak bohong! Cuma nggak bilang saja."

Ayu meletakkan gelas jusnya dengan keras. Bibirnya manyun. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Jadi, tantrumnya tidak ada efek sama sekali.

Mengetahui bahwa hari ini dia pulang lebih awal, aku mengganti tujuan ke kafe dekat sekolahnya. Toh aku belum siap pulang ke rumah. Mau menumpang di rumah Mbak Esta lagi atau Pak Man rasanya sungkan.

Entah di mana aku harus tidur malam ini.

Aku menenggak jusku banyak-banyak.

"Terus. Mbak sekarang mau gimana?"

"Jangan tanya, Yu! Aku pusing."

"Iki doki."

Aku memijat pelipis.

Kafe semakin ramai. Anak-anak SMA yang berseragam sama dengan Ayu mulai bermunculan. Kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki dalam kelompok besar.

"Yu. Kamu masih ingat anak laki-laki yang aku bicarakan dulu?"

"Yang bukan Yosan, bukan Slamet Riyadin, juga bukan Tentren Tinoto?"

"Ya. Yang itu?"

Lihat selengkapnya