Apakah aku harus merasa lega?
Rumah kembali terasa nyaman seperti saat pertama kali aku datang. Aku bisa duduk di kursi kerjaku, menikmati sinar mentari, dan berharap agar naskah hasil alih bahasaku akan menghasilkan uang.
Tidak ada lagi gangguan.
Namun, pikiranku tidak kunjung bisa tenang. Ini semua karena hal absurd di belakangku.
Ayu terkikik. Dia duduk di lantai, dagunya bertumpu pada dudukan sofa. Botol Marjan berdiri di depannya, bertengger di atas sofa. Di dalamnya terdapat hantu yang berbentuk persis seperti manusia, sama seperti kali pertama aku melihatnya. Hanya saja, ukurannya mengecil, setinggi liliput, sesuai dengan botol yang mengurungnya.
"Aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil aku 'Yang Mulia'."
"Tapi aku hanya memakai gelar itu untuk bapakku Yang Mulia Bapak Mangun."
"Kalau begitu panggil aku Tuan Muda!"
"Kan kita seumuran."
"Heh. Aku mati lebih lama dari mu, Bocah!"
Tanpa menoleh, aku terkekeh. "Yeah. Beats me."
Di saat yang sama, notifikasi ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Kamu blokir nomor ibu?
Selesai satu masalah. Muncul masalah lainnya.
"Aku akan panggil kamu Mister Ghost!"
Pulanglah. Nenek sakit.
"Jadi, Mister Ghost, apa yang saja yang bisa kamu lakukan?"
Aku mengganti pengaturan ponsel ke mode diam.
"Aku bisa lakukan apa saja jika kamu mengeluarkan ku dari sini."
"Bohong!"
"Tidak, Cah Ayu..."
"Kamu tau namaku Ayu?"
"Aku tahu segalanya."
Layar ponselku menyala. Panggilan masuk.
"Jangan percaya. Yu! Dia hantu cabul."
Ponselku mati.
Lalu menyala kembali.
"Diam kau!"
"Apa kamu bisa membalaskan dendam ku, Mister ghost?"
Lalu mati lagi.
"Bisa. Siapa yang mengganggu hati kecil gadis manis ini. Hm?"
"Ada satu anak di kelasku yang bernama Queensha..."