Bagi orang lain yang membaca cerita ini, tingkahku dan Ayu pasti menjengkelkan.
Kami punya kunci besar di depan kami, Pak Man, tapi kami malah berputar-putar mencari jalan lain yang tidak jelas.
Bukannya tanpa alasan. Aku tidak ingin terus-memerus merepotkan Pak Man. Ayu tidak ingin ayahnya yang protektif tahu. Kami berdua sama-sama tidak ingin masalah ini jadi besar.
Siapa yang menyangka situasinya akan berakhir seperti ini?
Aku menjejer foto-foto ke meja di hadapan kami. Pak Man duduk di hadapanku, Bu Sari disampingnya,. Duduk di sisi kananku, Ayu mendekap botol Marijan. Bagi orang lain, botol itu terlihat kosong, tapi aku dan Ayu tahu apa yang ada di dalamnya.
Mister Ghost.
Mahluk yang berwajah sama dengan orang yang ada di foto-foto ini, bersanding dengan Pak Man.
"Saya ingin Pakde menceritakan siapa orang ini."
Pak Man menatapku dan foto itu bergantian.
"Kenapa? Apa ada sesuatu?"
Aku menatap Ayu yang menggigit bibir bawahnya, meminta pertimbangan tanpa suara. Dia menjawab dengan mengangkat salah satu alis. Kurang-lebih artinya: terserah.
Berasumsi bahwa Pak Man mengetahui seluk-beluk yang terjadi pada laki-laki di foto itu, Aku menjawab dengan jujur.
"Saya pernah bertemu dengan orang ini."
Bu Sari meraih lengan suaminya, tampak sangat terkejut.
"Kamu bertemu denganya?"
"Waktu itu itu hujan, orang ini berdiri di depan pagar, jadi saya persilahkankan dia masuk untuk berteduh. Setelah itu..."
Aku membiarkan perkataanku menggantung supaya Pak Man dapat berspekulasi tentang apa yang terjadi setelahnya.
"Saya benar-benar harus tau apa yang terjadi." Desakku lebih keras.
Pak Man memijat plipisnya.
"Baiklah."
Suaranya terdengar serak-basah.
"Kalau sudah begini, apa boleh buat."
***