"Kalau Bapak bekerja untuk Rama, sudah pasti Bapak jadi dekat dengannya! Usia kalian juga hampir sama. Apa kalian jadi teman?"
Pak Man menanggapi ocehan Ayu dengan senyum kecut.
"Kami dekat. Ya. Sebatas majikan dan tangan kanannya. Rama memercayakan banyak hal pada Bapak, tapi tidak lantas kami menjadi teman atau bagaimana."
"Dia benar. Kalau dia penting. Aku pasti sudah mengingatnya."
"Tapi ada satu kali dia memintaku melakukan hal yang sedikit personal. Walau tidak berakhir baik."
"Apa itu?"
Pak Man menghela napas. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sepertinya aku harus menceritakan soal seorang gadis sebelum merambah ke tragedi itu. Gadis ini... Ibunya Adriani."
***
Rama mempunyai adik yang lebih muda lima belas tahun darinya. Perempuan. Cukup mengejutkan berhubung pernikahan Mbok Darmi tidak pernah tenang sekali pun. Walau begitu, orang-orang tidak terlalu tertarik untuk menjadikannya bahan perbincangan, berhubung spekulasi mereka tentang orang-orang di rumah itu terus terpatahkan.
Kalau saja mereka tahu apa yang dialami gadis itu, ceritanya bisa beda. Hanya kami yang bekerja di rumah itu yang tahu bahwa Mbok Darmi gampang sekali melayangkan tangan ke anak perempuannya.