RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #25

Rama (3)

Pak Man menunduk. Wajahnya terkubur di kedua telapak tangannya.

Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan dan bukan kesalahannya. Namun, luka kehilangan tidak akan sembuh hanya dengan sepatah-dua patah kalimat penghiburan. Terlebih jika seseorang telah menyimpannya begitu lama.

"Yang paling tidak dapat menerima keadaan ini tentu saja Mbok Darmi. Melihat anaknya kembali dalam kondisi yang hampir tidak dapat dikenali, dia menggila sejadi-jadinya. Dia melempar ke segala sesuatu ke pelayat yang hendak menguburkan anaknya. Menjambak rambutnya sendiri. Mengancam akan melukai dirinya sendiri jika tidak ada yang bisa menghidupkan anaknya kembali.

Rama baru bisa dikuburkan setelah ibunya kehabisan tenaga.

Berhari-hari Mbok Darmi terlihat seperti orang linglung. Panggangannya kosong. Dia juga sering menggumam sendiri.

Ketika dia mendapatkan kembali sedikit kewarasannya, dia melampiaskan kesedihan dan amarahnya pada orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Rama."

Kami tidak perlu bertanya siapa. Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa Pak Man pernah dihajar nenekku? Cukup parah hingga menjadi cerita turun-temurun.

Aku memutuskan untuk menanyakan hal lain.

"Jadi, sejak kapan itu terjadi?"

Tanpa mengutarakannya secara lugas, Pak Man memahami maksudku.

"Sejak hari itu, hampir semua buruh di rumah itu berhenti. Kondisi Mbok Darmi cukup membuat kami takut. Jadi tidak banyak yang tahu keadaan dalam rumah. Sampai suatu hari, guru sekolah Rama tiba-tiba datang ke rumah Pak RT.

Katanya, Rama mendatanginya dalam mimpi selama tiga hari berturut-turut, memohon agar gurunya menengok adik perempuannya.

Tapi ketika beliau datang bertamu, Mbok Darmi tidak bersedia membukakan pintu. Merasa ada yang janggal, pak guru meminta RT dan tetangga sekitar untuk menemaninya kembali ke rumah Rama.

Singkat cerita, mereka menemukan adik Rama terbaring lemas di kamar. Hanya setengah hidup. Tubuhnya penuh memar.

Malam itu juga, orang-orang membawa Mbok Darmi ke sidang Balai Desa."

Aku termangu.

Ah, jadi begitu?

Lihat selengkapnya