"Jadi, aku dipanggil cuma untuk kerja?"
"Menurutmu alasan lain apa yang mendorong ku menghubungimu? Mengajak kencan?"
Si asisten terdiam, tapi dari caranya menghindari tatapanku, sepertinya aku berhasil menebak isi hatinya.
"Kamu mau berdiri di situ terus?"
Dia menjejak-jejakkan ujung kakinya beberapa kali, kemudian menuruti undanganku untuk masuk ke area rumah, pindah dari luar pagar, tempatnya berdiri selama sepuluh menit terakhir.
Bagaimana dia bisa ada di sini, tanyamu?
Aku mendapat nomornya saat terakhir kali mencoba melarikan diri dari rumah gurunya. Waktu itu, aku membuat kesempatan untuk berbicara berdua dengannya dengan meminta diantar ke kamar mandi.
"Hei, Sudah berapa lama kamu bekerja pada Mbah Kutip?"
"Namanya Mbah Surip." Si asisten menatapku jengkel. "Belum lama. Kenapa?"
"Kamu dibayar berapa?"
"Kakak yakin menanyakan hal itu? Serius? Tidak sopan sekali."
Aku mengendikkan bahu.
"Soalnya kamu memang berbakat seperti yang kamu bilang. Orang seperti kamu pasti dibayar mahal, kan?"
Seperti yang aku duga, dia cukup naif. Mungkin karena usianya yang masih muda. Mungkin juga karena dia belum banyak pengalaman. Dia menjawab pertanyaanku begitu saja.
"Kami tidak berharap imbalan banyak di sini. Niat utama kami adalah belajar dari Mbah Guru."
Kami duduk lesehan di depan kamar mandi. Saling bersisihan.
"Kami?"
"Mbah punya sekitar sebelas murid."
"Kamu pasti sangat unggul karena berhasil menjadi yang terpilih sebagai asistennya."
Asisten mengusap tengkuknya. Telinganya memerah. Sudut bibirnya berkedut ketika dia menjawab.
"Tidak juga."
"Kamu terlalu rendah hati. Hei. Berikan nomormu!"
"Kakak mau mendaftar jadi member?"
"Tidak. Aku mau nomor pribadimu?"
"Buat apa?"
"Buat aku simpan."
"Alasannya?"
Aku tersenyum.
"Karena kamu imut."
Bisa dibilang, kehadirannya di sini merupakan hasil dari pancinganku.
"Siapa ini, Mbak? Brondongmu yang baru?"
Ayu yang mendengar aku kembali dengan iringan suara langkah kaki yang asing menengok dari pintu. Botol Marijan berisi Mister Ghost tidak lepas dari genggamannya.
"Maaf?"
"Ini asisten Mbah Sunat."
"Namanya Mbah Surip."
"Dukun yang kata Mbak penipu properti itu?"