"Berapa umurmu, Rama?"
"Lebih tua darimu."
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku pemilik rumah ini."
"Apa kamu berteman dengan bapakku?"
"Aku tidak kenal dia."
Ayu bersila di hadapan Rama. Dia membobardilnya dengan berbagai pertanyaan. Walau jawabannya asal, kali ini lebih baik daripada saat dia mendiamkan kami semalam.
Aku sendiri masih berusaha menenangkan Sandi dengan membuatkannya coklat hangat. Sebenarnya aku ingin dia menangani semuanya, tapi dia tampak lebih terguncang setelah Rama kembali ke ukuran besar.
Apakah hantu air memang sekuat itu?
Paling tidak, Sandi sudah membantu kami menemukan situasi yang ideal.
Aku berjongkok di samping Rama.
"Apa kamu tetap tidak mau memberitahu kami apa-apa?"
"Aku tidak punya hal yang harus disampaikan pada kalian."
"Baiklah kalau begitu."
Aku duduk dengan lebih nyaman di sampingnya. Lengannya yang menempel dengan lenganku terasa dingin. Mengingat bahwa dia adalah sisa-sisa dari pamanku membuatku sedikit melankolis.
Menekan perasaan, aku mengeluarkan ponsel dari saku dan memberi peringatan awal pada Sandi serta Ayu.
"Aku akan melakukan hal yang benar-benar jahat. Tolong jangan tiru adegan ini. Tidak peduli kondisi kalian."
Aku memosisikan kamera depan padaku dan Rama. Tentu saja Rama tidak akan kelihatan di kamera. Toh niatku yang sebenarnya bukan untuk mengambil gambarnya, melainkan agar dia bisa melihat layar ponselku dengan jelas.
Lihat, Paman. Aku akan menunjukkan padamu keajaiban teknologi modern.
Aku menekan tombol video call.
Nama dan nomor Ibuku tertera di layar.
Kemudian berganti dengan wajahnya.
Apakah hantu punya perasaan? Apakah mereka merasa senang, gugup, dan kesedihan? Aku yakin tubuh Rama di sampingku memegang seketika wajah adiknya muncul di hadapannya.
Tanpa mengetahui efek dari kemunculannya, ibuku mulai mengomel seperti biasa.
"Adriani! Kamu bilang kamu akan pulang. Kapan kamu akan sampai?"
"Aku saja belum beli tiket."
"Apa?"
Aku mengendikkan bahu. Acuh tak acuh.
"Adriani. Kamu sudah janji pada ibu!"
Aku menoleh pada Rama, lalu berbisik dengan sangat lirih.
"Kamu senang?"
"Adriani! Kamu dengar ibu atau tidak?"
"Sebelum memintaku untuk mendengar Ibu, apa Ibu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"