"Kamu bilang, tidak apa-apa kalau Rama jauh dari rumah, kan?"
Sandi mengangguk.
"Karena dia tidak sepenuhnya penunggu rumah itu, kemungkinan besar tenaganya akan berkurang. Tapi bukan berarti dia akan langsung musnah jika jauh dari rumah. Pastikan saja dia berada di dekat air."
"Berapa lama dia bisa bertahan jauh dari air?"
"Hantu air biasanya tidak bisa jauh dari air sama sekali. Tapi karena dia kasus spesial. Mungkin sekitar setengah tahun."
"Aku tidak akan butuh waktu selama itu."
Aku dan Sandi duduk bersanding di halte. Masing-masing memegang mie cup yang mengepul panas. Waktu sudah lewat tengah hari, tapi aspal di depan kami masih menguar panas. Kami berdua berkeringat dari lambung dan kulit.
"Orang waras mana yang makan mie instan di cuaca seperti ini?"
"Aku tidak tega membiarkanmu pergi dengan perut kosong. Paling tidak aku harus membayarmu karena meminta kamu jauh-jauh datang ke sini."
Sandi menunduk malu. "Bukan masalah besar juga."
"Uh. Harusnya aku mengajakmu makan di tempat yang lebih enak."
"Aku bisa ketinggalan bus. Kereta kakak juga hampir tiba."
Aku menghela napas.
Aku telah menipu seorang pemuda yang usianya jauh di bawahku, memaksanya datang dari jauh, dan bahkan tidak bisa memberinya bayaran yang layak.
"Sandi. Sebenarnya berapa usiamu?"
"Tahun ini... Aku kelas tiga."
"Apa?"
Sandi memperlihatkan tiga jarinya.
Anak ini hanya setahun lebih tua dari Ayu.
Hati nuraniku tercoreng.
"Kamu berbakat, Sandi. Kenapa kamu harus terlibat dengan penipu seperti Mbak Surip?"
Aku pikir Sandi akan marah karena aku mengatai gurunya, tapi ternyata dia hanya diam sambil mengaduk-aduk mienya.
Jangan-jangan...
"Kamu sudah tau?"
Sandi mengangguk kecil.
"Tapi kenapa kamu masih ikut dia?"
"Karena dia sudah terkenal. Kenapa kalau aku berbakat? Orang tidak tahu. Tidak akan ada yang mau mengambil jasaku. Beda dengan Mbah Surip. Dia terkenal. Pelanggannya banyak. Kami semua bertahan di rumah itu dengan menganggap bahwa kami ikut agensi atau sebagainya."
"Walau berarti juga menipu orang?"
"Mbah Surip yang melakukannya. Kami bekerja sesuai kemampuan."
Sandi menunduk dalam-dalam. Bahunya merosot tajam.
Aku menghela napas. Dari dalam ransel, aku mengeluarkan botol fermentasi berisi Rama.
"Hei. Kamu bilang dia hantu air. Tapi kenapa dia berubah menjadi asap?"
"Air akan menguap kalau terlalu panas."
Kami berdua menatap asap kebiruan di dalam botol. Dia sudah tidak bergelung-gelung marah, tapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan berubah menjadi sosok manusia.
"Menurutmu, dia akan berubah menjadi pamanku lagi?"
Sandi mengangkat kedua telapak tangannya. "Entahlah. Mungkin kalau dia sudah tidak marah."