RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #29

Epilog

Rumah sudah sepi ketika aku kembali dari pemakaman. Normalnya, beberapa tetangga dekat akan tetap tinggal untuk membantu keperluan tadarus nanti malam. Tapi aku sudah bilang pada Pak Modin kalau aku tidak akan mengadakan tahlilan atau selamatan untuk ibu.

Beliau maklum. Aku sudah tidak punya keluarga dekat. Nenekku baru meninggal bulan lalu. Sekarang ganti ibu.

"Tidak apa-apa, Nak Adriani. Itu bukan kewajiban. Kamu doakan sendiri saja sudah cukup. Ingat bahwa doa yang mujabah datang dari anak yang soleh-solehah."

Aku mengangguk.

Sepertinya Pak Modin salah sangka. Aku tidak mengadakan acara tahlilan untuk ibu bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku tidak mau.

Aku sudah cukup berbakti padanya dibanding dengan jasanya selama menjadi ibuku. Aku merasa tidak perlu memperpanjang baktiku sampai ke akherat.

Satu-satunya orang yang paham dengan isi hatiku masih tinggal di rumah, membantu melipat karpet yang baru digunakan untuk duduk para pelayat.

"Kak Adriani sudah kembali?"

Renata berlari kecil demi menghampiriku. Kembali ke sekolah tampak tidak membuatnya lebih cerah. Dia masih berwajah tegang seperti biasa. Namun aku tidak ingin mengangkat masalah itu. Aku sudah cukup lelah dengan hidupku sendiri.

"Orang-orang sudah pulang, Ta?"

"Masih ada beberapa orang di belakang, membantu membereskan makanan untuk Kak Adri."

"Oh. Aku harus berterima kasih."

"Tidak perlu. Kak Adri istirahat saja. Kakak kelihatan capek sekali."

Renata benar. Baru tadi malam aku berada di rumah sakit, menunggu ibu. Sebulan lalu aku juga berada di rumah sakit, membantu ibu merawat nenek yang jatuh sakit pertama kali.

Sejak aku membawa Rama tempo hari, kesehatan nenek semakin menurun. Dia sering mengigau walau tidak sedang tertidur, memanggil-manggil anak laki-lakinya, Rama, yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Entah apa yang pamanku lakukan pada ibunya. Setelah sebulan menderita sakit pikiran, nenek meninggal.

Aku pikir semua akan membaik setelah nenek tidak ada, tapi nyatanya ibuku tiba-tiba jatuh sakit. Tampaknya kepergian nenek merupakan pukulan yang berat untuknya. Tak lama berada di rumah sakit, dia menyusul.

Samapai nenek mati pun, ibuku tetap tidak bisa merelakannya.

Aku mengedarkan pandang ke seisi rumah.

Rama tidak terlihat.

Setelah ibu diumumkan meninggal tadi pagi, Rama langsung menghilang.

Lihat selengkapnya