RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #30

Side Story 1

Jika ada anak yang terlahir dengan bakat yang besar, Ayu pasti termasuk salah satunya.

Ayu lahir di pertengahan bulan Mei. Bulannya kegiatan olahraga di kampungnya. Di bulan itu, masa tanam sudah lewat, sedangkan masa panen masih jauh di depan mata. Hujan sudah sirna dan lapangan depan masjid kering total.

Pokoknya masa yang sangat pas untuk mengumpulkan warga. Kalau sudah berkumpul, kegiatan seru dan murah apa lagi yang bisa dilakukan selain pertandingan olahraga?

Ayu lahir pada pukul empat sore, saat orang-orang berkumpul untuk menonton pertandingan badminton. Ibunya adalah salah satu penonton itu. Perutnya sudah sangat besar, tapi tenaga seolah tidak pernah surut darinya.

Saat pemain unggulan di desanya memenangkan pertandingan lewat smash kuat, ketuban Bu Sari pecah.

Itu adalah pertanda pertama bahwa Ayu akan tumbuh menjadi anak yang tercatat dalam sejarah olahraga.

Kata bapaknya, Ayu memiliki genggaman yang kuat. Bahkan waktu Pak Man mengumandangkan adzan di telinganya, Ayu berhasil mencengkeram hidung bapaknya sampai pangkal hidungnya berdarah. Di umur tiga minggu, Ayu menarik rambutnya sendiri sampai kulit kepalanya mengelupas. Dan di usia delapan tahun, dia sudah masuk dalam liga panco bapak-bapak pos kamling.

Tangan legendarisnya yang bahkan bisa membuat anak-anak cowok desa sebelah ketar-ketir adalah pertanda kedua.

Ayu diperkenalkan pada voli saat dia kelas lima SD. Guru jasmani yang sangat menyayangi Ayu mendorongnya untuk mencoba macam-macam cabang olahraga. Karena tingginya yang melebihi teman sebayanya dan tangan yang lebih kuat dari kayu ulin, gurunya memasukkan Ayu ke klub voli.

Tidak butuh waktu dua tahun, grubnya berhasil menjadi penyabet piala bupati.

Kelas dua SMP, Ayu berhasil masuk ke ajang junior tingkat nasional.

Teman-temannya mulai menjulukinya The Next Megawati saat dia kelas tiga, walau dia tidak tahu apa kaitan antara dirinya dengan bidang politik.

Memiliki sejarah yang begitu gemilang, tidak mengherankan bahwa Ayu memiliki harga diri yang tinggi.

Sampai dia bertemu dengan tante dari kota itu.

"Wow. Anak beasiswa. Kamu pasti pintar."

Ayu kehilangan kesempatan untuk menjelaskan bahwa dia mendapat beasiswa sebagai atlet, bukan karena dia pintar. Jadi selama dia bergaul dengan tante itu, dia harus bertahan dengan ekspektasi sebagai anak yang pintar.

Bagaimana, ya? Setelah sekian lama nyaman pada kulitnya sendiri, berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya terasa... Memalukan.

Terlebih tante itu sendiri kelihatan sebagai orang yang pintar. Dia sering mencampur percakapan dengan temannya di telefon menggunakan Bahasa Inggris. Dia juga sering menggumamkan kata-kata yang terdengar seperti dari Asia Timur. Saat dia membuka laptopnya ketika tante itu meminjaminya, dia menemukan naskah pdf dengan huruf alphabet dalam tiga susunan bahasa yang berbeda!

Ayu merasa...

Lihat selengkapnya