Ketika Rheyna sampai di depan pagar rumahnya yang bercat putih kusam, ia menarik napas dalam-dalam. Rumah itu tampak sepi dari luar, tapi entah di dalamnya akan sesepi ini atau justru sebaliknya. Mobil kedua orang tuanya ada di garasi. Mereka berarti ada di rumah. Ia menuntun motornya, memarkirkan motor itu di samping mobil yang ada di sana. Setelahnya ia memutar kunci, membuka pintu rumah dengan gerakan sepelan mungkin. Ia melangkah masuk lalu mengunci pintu dengan hati-hati. Tidak ingin menimbulkan suara yang keras. Tidak ingin mengundang perhatian orang tuanya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Tidak ada aktifitas apa pun yang terdengar. Keadaan rumah yang sepi dan hening yang menyambutnya, membuat bahu Rheyna yang tegang perlahan merileks. Kekhawatiran yang menghampiri setiap masuk ke dalam rumah mulai menghilang. Keadaan ini yang selalu ia harapkan. Tidak ada suara keras yang terdengar, hanya ketenangan yang membuatnya bisa bernapas lega.
Ia melangkah pelan melewati ruang tamu menuju tangga yang akan membawanya ke kamar di lantai dua. Kamarnya yang berada di bagian paling ujung adalah tempat teramannya di rumah ini. Tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak menyembunyikan apa pun dan dari siapa pun.
Rheyna melangkah dengan pelan, baru saja kakinya menginjak anak tangga ketiga, keheningan yang tadi terasa, pecah berkeping-keping. Suara teriakan dan bentakan terdengar dari arah kamar yang pintunya tidak tertutup dengan rapat.
"Kau selalu saja begitu! Selalu menuduhku dengan tuduhan tidak berdasar. Tidak pernah mau mendengar! Memangnya aku kerja ini untuk siapa? Untuk keluarga ini! Kau tahu itu." Suara bentakan dari arah kamar orang tuanya terdengar, meski diredam oleh dinding tapi tetap terdengar jelas di telinga Rheyna. Itu suara ayahnya. Terdengar seperti orang yang dikuasai oleh kekesalan yang menumpuk.
"Iya! Kau memang bekerja, tapi bukan untuk keluarga ini tapi untuk selingkuhanmu itu. Jangan kau kira aku tidak tahu kelakuanmu di luar sana." Suara melengking ibunya membalas, penuh dengan tuduhan dan amarah yang tak bisa dibendung lagi.