Gelap!
Tidak ada apa pun selain lorong yang sepi. Suara langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian malam. Semakin lama, suara itu semakin jelas terdengar. Disusul suara pintu dibanting keras hingga kaca jendela seakan ikut bergetar.
Di ujung koridor dekat tangga seorang gadis kecil berdiri mematung. Kedua tangannya memeluk boneka beruang yang sudah lusuh karena terlalu sering dipeluk setiap malam. Wajahnya pucat, matanya menyiratkan ketakutan saat melihat ayahnya yang tampak marah di bawah sana. Pria itu berdiri di hadapan ibunya yang juga tampak tak kalah emosi.
"Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan? Kau selalu menuduhku dengan tuduhan tak berdasar itu."
"Itu karena kau selalu berbohong padaku. Kau tak pernah jujur tentang semua yang kau lakukan di luar sana. Kau bebas melakukan apa saja, sedangkan aku tidak. Ini tidak adil."
"Apanya yang tidak adil? Aku bekerja seharian, bukan keluyuran, Aruni."
"Yakin hanya bekerja? Tidak bersenang-senang dengan para kolegamu itu?"
"..."
"..."
Keduanya terus bertengkar tanpa menyadari anak mereka menyaksikan pertengkaran itu mulai menangis. "Ayah, ibu ..." panggil gadis kecil itu dengan pelan hendak menuruni tangga.
Orang tuanya menoleh. Keduanya menatap gadis kecil itu dengan marah. "Rheyna masuk kamar dan tidur!" Suara keras diselimuti emosi itu menyentak gadis kecil yang tidak lain tidak bukan adalah Rheyna. Langkah Rheyna terhenti, tubuhnya langsung bergetar ketakutan. Jantungnya berdegup semakin cepat. Tangannya semakin mengeratkan dekapannya pada boneka beruang di pelukannya lalu berbalik berlari kecil menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamar, ia langsung naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Berharap suara pertengkaran orang tuanya tidak terdengar lagi. Namun sayang suara pertengkaran itu masih terdengar dari pintu yang tidak tertutup rapat.
Prang! Pyar!