Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #4

4

"Itu hanya mimpi..."

Rheyna mengulang kalimat itu berkali-kali di dalam hati. Meyakinkan diri yang ia lihat tadi hanya mimpi. Meskipun begitu bukan mimpi itu yang membuatnya takut, melainkan kenyataan bahwa semua itu memang pernah terjadi. Bahkan masih ia alami hingga kini. Kemarin malam pun orang tuanya masih bertengkar. Mungkin karena itu pula ia bermimpi tentang masa kecilnya saat ia melihat orang tuanya ribut di tengah malam. Tubuh dan pikirannya masih mengingat hari-hari saat ia menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar.

Ia yang seharusnya masih mendapat pelukan dari orang tuanya justru harus memeluk diri sendiri saat mereka terlalu sibuk saling menyakiti. Ia yang harusnya mendapat perhatian justru harus menjadi penonton orang tuanya saling tuduh dan melempar barang hingga ia belajar bahwa rumah bukan selalu tempat yang aman karena ada teriakan, bentakan, pintu yang terbanting dan barang pecah yang memekakkan telinga dan membuatnya ketakutan.

Rheyna menghela napas panjang lalu memaksa diriku bangun. Ia melihat ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya. Melirik jam digital yang menunjukkan pukul 04.45. Masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi ia terlalu enggan untuk tidur lagi. Terlebih dengan mimpi yang baru saja ia alami.

Biasanya ia baru turun sekitar pukul enam lewat, tetapi hari ini ia tidak ingin berada lebih lama di rumah. Entah kenapa, dinding-dinding rumah ini terasa semakin sempit setiap kali orang tuanya bertengkar. Tadi malam sudah cukup untuknya mendengar semua pertengkaran, semua harga diri yang mereka pertahankan tanpa memikirkan dirinya yang masih ada di rumah ini.

Ia beranjak ke balkon, berharap udara pagi mampu mengusir kegundahan hatinya dan menenangkan pikiran yang penuh. Ia menatap jauh ke depan. Di sekitar masih tampak gelap. Matahari belum terbit, pepohonan pun belum tampak hijaunya. Udaranya masih terasa dingin tapi justru itu yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Suara-suara yang memenuhi kepalanya seakan dibawa oleh angin yang berembus di antara pepohonan di sekitar rumahnya. Sekali lagi ia menarik dan mengembuskan napasnya. Bibirnya melengkungkan senyum saat mentari pagi mulai terbit. Warna jingga perlahan menyapa langit, terlihat di antara pepohonan yang hijau daunnya mulai tampak berpadu dengan warna jingga seakan menyambut pagi yang datang. Setidaknya pagi ini ia sedikit merasa lebih baik dibandingkan tadi malam.

Setelah cukup lama menikmati pemandangan pagi dari balkon kamarnya, Rheyna memutuskan segera mandi dengan air dingin, berharap sisa-sisa lelahnya kemarin hanyut bersama aliran air. Setelah mengenakan blouse putih dan rok hitam selutut, ia menyisir rambut dan mengikatnya ke belakang. Riasan tipis hanya sekadar membuat wajahnya tidak terlihat pucat seperti isi kepalanya yang penuh.

Ia mengambil tas kerja yang sudah ia siapkan sejak semalam lalu keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan santai. Begitu tiba di ruang makan, aroma kopi dan roti panggang langsung memenuhi indra penciumannya. Menu sarapan yang sudah biasa tersaji di meja makan setiap harinya.

Ayahnya sudah duduk di kursi utama sambil membaca berita di tablet. Secangkir kopi hitam berada di sampingnya. Sedangkan ibunya baru keluar dari kamar dengan kemeja berwarna krem dipadukan dengan celana kain hitam. Wanita paruh baya itu masih tampak elegan di usianya yang tidak lagi muda. Ia duduk di samping ayahnya. Tampak biasa seolah pertengkaran semalam tidak pernah terjadi.

"Kau sudah siap berangkat? Pagi sekali," ujar Aruni sedikit heran melihat anaknya sudah siap berangkat lebih pagi dari biasanya.

Rheyna hanya mengangguk. "Aku mau berangkat sekarang."

"Setidaknya sarapan dulu."

"Tidak usah, Bu. Aku ada rapat pagi ini! Jadi aku harus berangkat lebih pagi," jelas Rheyna.

"Beraktifitas seharian butuh energi. Kau harus sarapan dulu."

"Nanti aku beli di kantin kantor saja," jawab Rheyna, mencoba memberi alasan padahal mungkin ia tidak akan membeli apa pun. Ia hanya tidak ingin duduk di meja makan terlalu lama.

Belum sempat Aruni mengatakan sesuatu, suara Surya terdengar datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. "Masih keras kepala."

Rheyna berhenti melangkah. "Ayah bicara padaku?" tanyanya.

Surya akhirnya mengalihkan pandangannya dari tabletnya. Ia menatap Rheyna dengan datar. "Kalau dulu kau mau ikut masuk perusahaan tempat ayah kerja, kau tidak perlu berangkat sepagi ini."

Lihat selengkapnya