Rheyna tiba di kantor beberapa menit sebelum jam kerja dimulai. Sedikit lebih pagi dari yang biasanya.
Seperti hari-hari sebelumnya, ia memarkirkan motor di tempat yang sama, mengambil tas dari jok motornya, lalu berjalan menuju gedung tanpa banyak menoleh ke sekeliling. Hanya sesekali ia tersenyum saat ada yang menyapanya. Langkahnya tenang seolah pagi yang baru saja dilaluinya tidak meninggalkan apa pun. Padahal suara pertengkaran kedua orang tuanya masih berputar seperti musik dalam kepalanya. Nada tinggi yang saling menimpa, dan dirinya yang kembali menjadi anak kecil, bersembunyi di balik selimut sambil menutup kedua telinga.
Rheyna mengembuskan napas panjang sebelum memasuki lift. Ia tidak ingin membawa masalah di rumah ke kantor. Setidaknya, tidak lebih jauh daripada yang sudah telanjur menempel di kepalanya.
Pintu lift terbuka di lantai tempat timnya bekerja. Beberapa orang sudah datang. Ada yang sedang menyalakan komputer, ada yang kembali dari pantry setelah membuat kopi dan membawa roti sebagai sarapan, dan beberapa lainnya sibuk membicarakan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.
"Rheyna!"
Ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Mita melambaikan tangan dari mejanya.
"Pagi!"
"Pagi!"
"Tidak biasanya kau datang lebih pagi hari ini."
Rheyna hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi perkataan Mita, ia justru membalas dengan pertanyaan yang sama. "Kau sendiri juga kan? Tumben!"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tetapi Mita tidak sempat menjawab lebih jauh karena salah satu anggota tim mereka memanggil dari ujung ruangan.
"Rheyna, Mita, desain final yang kemarin bisa kita bahas sekarang?"
Rheyna dan Mita mengangguk bersamaan.
"Bisa!"
"Tentu dong!"
Rheyna langsung meletakkan tas di kursinya dan menyalakan komputer.
Pekerjaan adalah hal yang paling mudah baginya. Tidak seperti rumah yang penuh dengan percakapan tapi tidak pernah benar-benar menemukan penyelesaian dan titik temu, sedangkan pekerjaan memiliki sesuatu yang jelas. Ada proyek yang harus diselesaikan sesuai sesuai target waktu dan hasil akhir. Jika ada sesuatu tidak sesuai, hanya perlu direvisi. Jika ada kesalahan, tinggal dicari penyebabnya lalu diperbaiki.
Pekerjaan bisa ia selesaikan sendiri atau bersama timnya. Jika ada perbedaan pendapat mereka akan berdiskusi. Meski sesekali ada perdebatan dengan nada tinggi, setidaknya itu selesai saat itu juga. Tidak akan berlarut-larut hingga membuatnya merasa tidak nyaman berminggu-minggu.
Di depan komputer, Rheyna bisa bernapas lebih lega. Ia membuka file desain yang telah mereka diskusikan sehari sebelumnya. Satu persatu detail diperiksanya. Ia mencatat beberapa hal yang masih perlu disesuaikan sebelum akhirnya memberikan catatan itu pada anggota tim lainnya.
"Kau benar-benar jenius, Rhey!" puji Mita setelah membaca catatan yang Rheyna berikan padanya. "Fany! Coba kau lihat ini, desain yang kemarin kita diskusikan lalu detail yang Rheyna tambahkan ini membuat desain akhirnya menjadi lebih berkelas. "Gimana menurutmu?"
Fany beranjak dari mejanya ke meja Mita. Ia mengambil catatan itu lalu menoleh ke arah meja Rheyna yang berdekatan dengan meja Mita. Ia melihat ke komputer dan melihat desain akhir yang Rheyna kerjakan. "Kau benar Mit! Hasilnya bagus. Jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. Hanya saja bagaimana jika bagian ini ukurannya dikecilkan?" ujar Fany sambil menunjuk bagian yang menurutnya perlu diperkecil.
"Bisa! Tapi jangan terlalu kecil. Nanti pas dicetak detailnya hilang."
Fany mengangguk! "Berarti yang ini direvisi. Baiklah! Aku saja menyelesaikan bagian akhirnya ini."
"Baiklah! Akan aku kirim filenya ke komputermu," balas Rheyna.
Hanya satu kalimat yang Rheyna ucapkan sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan di depannya. Ia tidak akan banyak bicara. Mita dan Fany hanya bisa tersenyum maklum. Sudah biasa dengan sikap Rheyna ini. Meski tidak banyak bicara, meski enggan mengeluarkan pendapatnya saat diskusi. Setidaknya temannya mudah untuk diajak menyelesaikan pekerjaan.
Rheyna memang seperti itu. Ia jarang ikut berpendapat saat diskusi, hanya sesekali memberikan ide untuk suatu proyek dan desain. Namun, saat mengerjakan pekerjaannya, detail yang luput mereka perhatikan bisa dipoles sedemikian rupa oleh Rheyna hingga hasil yang diinginkan jauh di atas ekspektasi mereka.
Rheyna jarang bicara bukan karena membenci orang lain, bukan juga karena sombong. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya membiarkan orang lain terlalu dekat. Baginya, menjaga jarak terasa jauh lebih aman.