Hampir dua bulan berlalu sejak Andra pindah. Ia sudah bisa beradaptasi dengan baik di timnya yang baru. Ia mulai tahu dan hafal kebiasaan-kebiasaan kecil teman-temannya, mulai dari Fany yang suka menyusun berkasnya sesuai warna map. Mita yang selalu menempelkan note di kubikelnya hingga Pak Danu dengan kopi americano di jam 2 siang yang ia beli di cafetaria di seberang kantor mereka setelah makan siang.
Sejak beberapa hari terakhir pula, Andra mulai menyadari satu hal tentang Rheyna. Wanita itu tidak benar-benar pendiam. Setidaknya, bukan ketika urusannya menyangkut pekerjaan. Wanita itu bisa menjelaskan sesuatu dengan sangat jelas ketika membicarakan proyek yang mereka tangani bersama. Ia bisa memberikan alasan mengapa sebuah warna tidak cocok digunakan, mengapa susunan elemen harus diubah, bahkan bisa mengingat detail kecil dari pembahasan yang dilakukan tim beberapa hari sebelumnya. Ia memang tidak banyak bicara. Tapi itu cukup membuat anggota timnya mengerti apa yang Rheyna maksud. Namun, semuanya berubah ketika pembicaraan tidak lagi berkaitan dengan pekerjaannya. Rheyna seperti seseorang yang tahu persis kapan harus berbicara dan kapan harus menghilang dari sebuah percakapan.
***
Pagi itu, mereka sedang melakukan diskusi kecil mengenai desain akhir untuk sebuah proyek yang akan segera dipresentasikan kepada klien.
Beberapa orang duduk mengelilingi meja panjang di ruang meeting. Beberapa lembar hasil cetak desain tergeletak di tengah meja. Rheyna duduk di salah satu sisi, tidak banyak bergerak selain sesekali menggambar dan mencatat sesuatu.
"Menurutku bagian ini terlalu penuh dengan kata-kata yang tidak perlu. dan warnanya tidak kontras dengan gambar." Salah satu rekan mereka menunjuk layar melalui proyektor yang tersambung dengan laptop yang terbuka di tengah meja.
"Warna bisa disesuaikan, tapi jika kata-kata dihilangkan, informasi pentingnya tidak akan terlihat."
"Tapi tidak semua kata-kata harus ditampilkan, fokus desainnya jadi tidak jelas."
Saat perdebatan mulai terjadi dan nada suara mulai meninggi, Rheyna yang sejak tadi menatap layar perlahan menurunkan pandangannya. Tangannya yang tadinya sibuk bergerak di atas kertas berhenti begitu saja.
Andra memperhatikannya. Bukan karena perubahan yang besar. Justru karena perubahan itu begitu kecil. Bahu wanita itu sedikit menegang. Ia tidak ikut melihat ke arah dua orang yang sedang berdebat. Pandangannya justru beralih pada catatan di hadapannya seolah-olah ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk diperhatikan di sana.
"Ya, tapi kau dari awal memang tidak mengatakan yang perlu diperbaiki di bagian itu."
"Aku hanya bilang desainnya ..."
"..."
Perdebatan itu semakin sengit. Belum ada yang mau mengalah hingga Rheyna akhirnya menutup catatannya. "Maaf aku permisi, akan aku revisi bagian yang perlu diperbaiki tadi," ujarnya seraya berdiri.
Semua orang menoleh! Perdebatan yang tadi masih berlangsung terhenti seketika. "Eh, tunggu, kita belum selesai diskusi," kata Fany.
Rheyna tersenyum tipis. "Nggak apa-apa! Nanti aku sesuaikan saja dengan hasil rapat," balasnya lalu meninggalkan ruang rapat. Tanpa peduli tatapan heran dan penuh tanda tanya dari teman-temannya.
Andra mengernyitkan dahi. Bingung melihat Rheyna tidak menunggu diskusi itu selesai. Wanita itu memilih keluar dari ruang rapat. Kenapa Awalnya Andra mengira wanita itu hanya memiliki pekerjaan lain. Namun, beberapa menit setelah rapat usai, ia melihat Rheyna berdiri sendirian di ujung ruangan di depan jendela. Tidak melakukan apa-apa. Matanya memandang jauh seolah pemandangan yang tampak dari jendela sangat menarik perhatiannya. Tapi tatapan Rheyna itu bukanlah tatapan penuh minat pada sesuatu yang ia lihat, melainkan tatapan seseorang yang sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang yang memang ingin menjauh dari riuhnya dunia, seperti di ruang rapat tadi.
Andra tidak menghampirinya. Ia memilih tidak bertanya. Hanya diam memperhatikan. Ada sesuatu dari cara Rheyna menjauh tadi yang membuat Andra merasa bahwa pertanyaan sederhana seperti 'Apa yang terjadi? Atau kenapa?' justru akan membuat Rheyna semakin menutup diri.
***