Ruang tim design yang biasanya dipenuhi suara keyboard, suara goresan pensil dan pena, derit kursi, dan obrolan ringan mendadak berubah menjadi tempat yang terasa terlalu sempit bagi Rheyna.
Semua berawal dari perdebatan kecil. Bukan sesuatu yang besar. Hanya soal proyek yang tidak berjalan sesuai rencana dari tim marketing. Mereka datang ke divisi design untuk meminta beberapa detail gambar diubah untuk keperluan promosi baru. Tapi nada suara yang mereka gunakan meninggi, menuntut tim design untuk lebih detail lagi. Tentu saja, anggota tim design tidak terima. Mereka berakhir adu argumen. Saling memotong pembicaraan, saling menyalahkan.
"Tim design yang seharusnya bertanggung jawab! Kalau design seperti ini terus yang diberikan, bagaimana kita bisa berharap penjualan meningkat?”
"Jangan melempar kesalahan begitu! Kami sudah menyelesaikan design sesuai permintaan kalian, dan kalian menyetujuinya. Saat kalian tidak bisa meyakinkan klien, jangan salahkan kami."
“Design sudah disesuaikan dengan brief yang diberikan,” imbuh salah satu anggota tim design membela rekannya.
“Brief memang sudah sesuai,” balas seseorang dari tim marketing. “Tapi hasil akhirnya tidak menunjukkan dampak yang kami harapkan.”
Beberapa lembar hasil design kampanye untuk satu produk dibanting di salah satu meja temannya. Design itu merupakan hasil kerja tim mereka selama hampir seminggu. Memang tidak sempurna, tapi design tersebut sudah melalui beberapa kali revisi dan diskusi sebelum diserahkan kepada tim marketing. Lagi pula design itu sudah disetujui oleh tim marketing sebelumnya.
Rheyna yang sejak tadi menatap layar komputernya perlahan mengangkat wajah. Ia yang awalnya tidak ingin melibatkan diri mulai terganggu. Tangannya yang semula berada di atas meja perlahan mengepal. Ia mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Ini kantor! Mereka hanya berdebat tentang pekerjaan. Tidak ada yang sedang bertengkar di rumah. Namun tubuhnya seperti tidak memahami perbedaan itu.
“Kalau dari awal marketing minta konsep yang lebih agresif, seharusnya brief-nya jangan setengah-setengah.”
“Bukan berarti kami harus menjelaskan semuanya sampai detail kecil!”
“Lalu bagaimana tim design bisa tahu apa yang pasar butuhkan kalau informasinya tidak lengkap?”
Suara-suara mereka tumpang tindih. Semakin keras dengan ego yang tidak mau kalah. Rheyna mencoba mengatur napas. Dadanya terasa sesak. Jari-jarinya mulai dingin.
Ia menatap layar laptop, tetapi tulisan-tulisan di sana mulai kehilangan fokus. Suara orang-orang di sekitarnya terdengar semakin jauh sekaligus semakin keras. Persis seperti di rumahnya. Seperti suara ayah dan ibunya yang bertengkar. Saling menyalahkan. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan.