Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #8

8

Andra terus berjalan mencari Rheyna beberapa ruangan sudah ia periksa. Tapi belum juga ia melihat wanita itu. Sampai ia berada di depan toilet wanita. Apa mungkin Rheyna berada di dalam sana?

"Rheyna? Rhey, kau di dalam?"

Tidak ada jawaban! Andra menuggu beberapa menit, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Apa mungkin Rheyna tidak ada di dalam?

Setelah beberapa pertimbangan, Andra akhirnya memberanikan masuk ke toilet wanita. Terlebih setelah beberapa menit menunggu tidak satupun orang yang keluar masuk toilet. Ia hanya ingin memastikan. Hanya itu!

Begitu masuk, ia tidak mendapati siapa pun di sana. Dua bilik kosong dengan pintu terbuka. Hanya satu bilik yang tertutup rapat. Andra mendekat ke arah bilik yang paling ujung itu. Saat itulah ia mendengar suara tangis dari dalam sana. Ia mengenal suara itu, suara itu milik Rheyna. Ia melangkahkan kakinya perlahan. Tidak ingin mengejutkan Rheyna. Ia berdiri di sana, mendengar tangis Rheyna yang mulai membuatnya tidak nyaman.

Sebenarnya ia ingin mengetuk pintu di depannya, tapi ia tidak ingin Rheyna merasa diikuti dan tidak nyaman. Terlebih saat ini ia berada di toilet wanita. Akhirnya ia memilih keluar. Ia juga berusaha agar tidak ada yang masuk ke toilet ini. Memberikan waktu untuk Rheyna menenangkan diri.

Tidak berselang lama, Rheyna akhirnya keluar. Matanya membeliak kaget saat melihat Andra berdiri di samping pintu toilet wanita. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya berusaha meredam keterkejutannya.

"Menunggu temanku yang sedang menenangkan diri di dalam sana," jawab Andra dengan santai. "Sudah tenang sekarang?"

Rheyna mengalihkan wajahnya. Semburat merah menghiasi wajahnya. Ia merasa malu dipergoki seperti ini.

"Tidak perlu menjawab. Itu privasimu. Aku tidak akan bertanya apa pun lagi," ujarnya meyakinkan. "Sebaiknya kita bergegas kembali. Rapatnya pasti sudah setengah jalan ini," lanjutnya lagi seraya mengamit tangan Rheyna lalu menariknya pelan untuk mengikutinya.

"Eh rapat apa maksudmu?"

"Rapat dadakan dengan tim marketing untuk mengatasi design yang diperdebatkan tadi."

"Oh!"

Keduanya terus melangkah. Tanpa keduanya sadari tangan mereka masih saling menggenggam, sampai Rheyna menyadarinya. "Andra, aku bisa jalan sendiri," ucapnya pelan. Entah mengapa pipinya bersemu saat sadar tangannya masih digenggam erat oleh Andra.

"Eh iya! Maaf!" balas Andra langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia mempercepat langkahnya agar Rheyna tidak sadar jika ia tengah malu.

***

Ketika Rheyna dan Andra tiba di ruang rapat, diskusi sudah berjalan, baik tim design dan tim marketing mengemukakan pendapat masing-masing. Mita menyerahkan catatan pada keduanya hingga mereka tahu sudah sejauh mana diskusi berjalan. Rheyna cenderung memilih mendengarkan daripada berbicara. Ketika seseorang menyampaikan pendapat dengan nada keras, ia biasanya mengalihkan fokusnya ke catatan di depannya. Ketika percakapan berubah menjadi perdebatan, Rheyna hampir selalu menjadi orang pertama yang kehilangan minat untuk ikut berdiskusi. Wajahnya kembali memucat seperti di ruang tim design saat tim marketing marah-marah.

Andra melihat itu! Kebiasaan kecil itu tidak satu kali ia melihatnya. Awalnya ia mengira itu hanya sifat Rheyna yang pendiam. Tidak suka keramaian dan keributan. Namun kali ini berbeda. Sejak perdebatan tadi, vas bunga yang pecah hingga rapat yang berjalan alot ini, ia melihat ketakutan di wajah Rheyna. Bukan sekadar tidak nyaman.

Hampir satu jam berlalu, rapat itu akhirnya berakhir. Tim design bersedia membantu dengan brief yang lebih detail yang diberikan oleh tim marketing. Satu persatu mereka mulai meninggalkan ruang rapat

Rheyna masih duduk di tempatnya. Entah sadar rapat sudah berakhir atau tidak. Ia masih menatap layar laptop tapi pandangannya seolah tidak melihat apa pun.

Lihat selengkapnya