Akhir pekan seharusnya menjadi waktu istirahat bagi Rheyna. Sayangnya hari ini berbeda. Hari ini keluarga besar ibunya mengadakan temu keluarga. Rheyna sebenarnya tidak ingin datang. Sejak pagi, perasaan tidak nyaman sudah memenuhi dadanya. Ia bahkan sempat berharap ada alasan untuk membatalkan kehadirannya. Namun, seperti biasa, tidak ada yang benar-benar bertanya apakah ia ingin ikut atau tidak. Hanya tuntutan agar ia tetap datang.
Rumah keluarga dari pihak ibunya hari ini terlalu ramai. Bukan ramai oleh tawa yang membuat seseorang ingin tinggal lebih lama, melainkan ramai oleh suara-suara yang saling bertumpuk. Suara orang dewasa yang berbicara tentang pencapaian masing-masing, suara sendok yang beradu dengan piring, suara tawa yang sesekali terdengar terlalu keras untuk sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.
Rheyna duduk di salah satu sudut ruang keluarga yang cukup luas, sementara orang-orang di sekelilingnya sibuk berbincang. Ia tersenyum ketika seseorang menatapnya. Mengangguk dan menjawab seadanya ketika diajak bicara. Setelah itu kembali diam.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa sejak tadi Rheyna merasa seperti orang asing di tengah keluarganya sendiri.
"Rheyna sekarang kerja di perusahaan yang itu, ya?" tanya salah satu bibinya kepada ibunya.
Ibunya tersenyum bangga. "Iya. Sekarang sudah mulai menangani beberapa proyek besar."
"Oh, bagus sekali," ujarnya memuji. Namun, hanya beberapa detik kemudian, wanita itu melanjutkan dengan nada yang berbeda. "Tapi kenapa tidak bekerja di perusahaan suamimu saja? Seperti anakku yang membantu usaha suamiku. Apalagi perusahaan suamimu sedang berkembang saat ini."
"Rheyna ingin mencoba bekerja dengan kemampuannya sendiri, tanpa bantuan orang tuanya. Tidak salah, kan?"
"Wah bagus itu! Jadi tidak selalu mengandalkan koneksi."
"Ya dibandingkan anakku. Sudah tiga tahun kerja di luar negeri. Gajinya memang besar, tapi jarang pulang. Kadang aku sampai lupa punya anak," komentar bibinya yang lain.
"Ya, namanya juga kerja," sahut bibinya yang pertama.
"Setidaknya anakku masih pulang. Masih ingat punya rumah."
Kalimat itu disambut dengan tawa. Sedangkan Rheyna hanya bisa menunduk. Ia tidak tahu apakah mereka sedang bercanda atau memang sedang saling menyindir, atau mungkin keduanya. Saat berkumpul seperti ini batas antara candaan dan sindiran begitu tipis. Rumah baru, pendidikan, mobil dan jabatan selalu menjadi topik utama. Semuanya terdengar seperti perlombaan menjadi yang lebih berhasil, yang paling kaya dan yang keluarganya lebih sempurna.
Rheyna hanya duduk sambil memainkan ujung jarinya sendiri. Ia tidak tahu harus masuk ke dalam percakapan yang mana. Tidak ada satu pun topik yang membuatnya merasa nyaman. Sampai akhirnya pembicaraan beralih ke topik yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.
"Omong-omong, suamimu sekarang bagaimana?" tanya salah seorang paman kepada ibunya.
Suasana berubah sedikit. Tidak terlalu kentara. Tetapi Rheyna merasakannya.
Ibunya menarik napas kecil sebelum menjawab. "Baik."
"Masih sibuk dengan bisnisnya?"
"Kau sudah mendengar pembicaraanku dengan istrimu, kan? Perusahaan suamiku sedang berkembang akhir-akhir ini."
"Oh bagus kalau begitu!"
Kalimat itu terdengar biasa. Namun kemudian seseorang tertawa kecil. "Ya, harus hebat. Bagaimanapun dia masuk ke keluarga ini dengan membawa latar belakang yang berbeda."
Rheyna langsung mengangkat wajah. Ibunya terdiam. Ayahnya yang duduk tidak jauh dari sana ikut diam. Tetapi Rheyna bisa melihat rahang ayahnya mengeras.
"Berbeda bagaimana?" tanya ayahnya.
Pamannya tersenyum. "Ah, jangan salah paham. Maksudku hanya ... kita semua tahu bagaimana dirimu yang dulu, sebelum menikah dengan kakakku."