Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #10

10

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Terlalu hening setelah hari yang melelahkan, setelah pertengkaran yang kembali membuka luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Rheyna menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Setiap kata-kata yang ia dengar hari ini terus berputar dalam pikirannya. Tentang harga diri keluarga, kekayaan, status sosial hingga pertengkaran orang tuanya.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dalam pikirannya. Kenapa mereka bisa saling menyakiti seperti itu? Kenapa harus menjatuhkan harga diri orang lain untuk merasa bahagia? Apa hal itu penting? Namun seberapa keras pun ia memikirkannya, ia tidak menemukan jawabannya. Hal itu justru menimbulkan pertanyaan lainnya.

Rheyna terus memikirkan semua yang ia alami hari ini hingga lelah menghampirinya. Entah sejak kapan kelopak matanya mulai terasa berat, dan kesadarannya perlahan tenggelam.

Tanpa ia sadari, ia kembali berada di tempat yang sudah bertahun-tahun berusaha ia tinggalkan, masa saat ia selalu menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran orang tuanya.

"Rheyna!"

"Nenek! Kakek! Aku ranking 3!"

"Wah bagus sekali! Nanti nenek buatkan makanan kesukaan Rheyna sebagai hadiah."

"Kakek juga! Kau mau apa? Nanti kakek belikan."

Binar bahagia tergambar jelas di wajah Rheyna. "Apa ya?" Ia tampak berpikir lalu dengan wajah polosnya ia berkata. "Aku ingin beli buku yang banyak. Boleh ya, Kek?

"Buku?"

"Iya! Soalnya kata ayah dan ibu, aku harus ranking 1. Jadi aku mau belajar yang rajin biar bisa ranking 1 seperti keinginan mereka."

Mendengar jawaban Rheyna membuat kedua orang paruh baya di depannya terdiam. Keduanya menatap cucu mereka dengan pandangan iba. Tidak seharusnya anak sekecil ini menjadi korban keegoisan dan ambisi orang tuanya.  Pria paruh baya itu mengusap rambut Rheyna. "Tentu kakek akan belikan untuk Rheyna."

"Terima kasih, kakek!" ucap Rheyna seraya memeluk kakeknya.

"Hanya kakek saja yang dipeluk, nenek tidak?"

Melihat wajah neneknya yang terlihat sedih, membuat Rheyna tidak enak hati. Akhirnya ia juga memeluk neneknya. "Aku sayang nenek."

Mendengar perkataan tulus cucunya membuat pasangan itu tertawa. Terhibur dengan tingkah polos Rheyna. "Ayo sekarang ikut nenek. Ada bolu kukus yang nenek buat tadi pagi. Rheyna mau mencobanya?"

Rheyna mengangguk dengan antusias.  "Mau!" jawabnya.

"Kalau begitu ayo!" ujar neneknya. Sebelum pergi wanita paruh baya itu menoleh ke arah suaminya."Kau bicaralah pada Aruni dan Surya! Jangan sampai Rheyna menjadi korban keegoisan mereka."

Mendengar perkataan neneknya membuat Rheyna mengernyitkan dahi, bingung. Kenapa nama ayah dan ibunya disebut? Ia ingin bertanya tapi neneknya sudah memanggilnya untuk ke dapur.

Keduanya berjalan menuju dapur. Sedangkan kakeknya masih duduk di sofa dengan pandangan iba menatap Rheyna. "Maafkan kakek! gumamnya.

Beberapa tahun kemudian, ia yang masih ingat perkataan neneknya beberapa waktu lalu akhirnya mulai menyadari maksud dari perkataan itu bahwa rumah bukan tempat yang aman bagi seorang anak di saat orang tuanya menjadi sumber luka dan ketakutannya. Itu terbukti saat ia sedang mengerjakan tugas di ruang keluarga. Suara keras dari pertengkaran orang tuanya pecah di dapur.

"Kau pikir aku tidak tahu?" suara ibunya menggema, keras dan penuh tuduhan.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" balas ayahnya, menggeram. Suaranya tidak kalah tinggi, jelas ada amarah dalam suaranya.

Rheyna terpaku! Tangannya berhenti bergerak, pulpen di tangannya tergeletak begitu saja karena tangannya bergetar karena takut mulai merayap dalam dirinya

Lihat selengkapnya