Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #11

11


Pagi datang terlalu cepat. Rheyna bahkan tidak merasa benar-benar tidur. Setelah menangis cukup lama, ia hanya berbaring dengan mata terbuka. Tidak sanggup untuk tidur lagi. Ia hanya menatap langit-langit kamar sampai cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah tirai.

Kepalanya terasa berat. Matanya perih. Tubuhnya lemas seperti baru saja melewati malam yang panjang tanpa beristirahat. Meskipun begitu, ia tetap bangun sama seperti hari-hari biasanya.

Rheyna berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajah yang menatapnya dari balik cermin terlihat pucat. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah kedua matanya. Rambutnya ia ikat seadanya. Ia membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap rasa lelah itu ikut menghilang, tapi tidak berhasil.

Rheyna menghela napas. "Kerja!" gumamnya. Hanya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri untuk mengalihkan pikirannya setelah mimpi panjang yang ia alami tadi.

Ia tidak boleh memikirkan mimpi tadi malam. Tidak boleh mengingat suara tumpang tindih ayah dan ibunya. Tidak boleh mengingat kalimat-kalimat menyakitkan yang selama ini menghantuinya.

Rheyna memejamkan mata lalu membukanya kembali. Hari ini harus berjalan seperti biasa. Akhirnya ia memutuskan untuk mandi, berharap air dingin mampu membuat tubuh dan pikirannya kembali segar.

Ia bersiap seperti biasa. Tidak banyak menggunakan riasan. Ia hanya memoles wajah untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan lingkaran hitam di matanya. Setelahnya mengambil tas. Keluar dari kamar. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia melewati ruang makan tanpa banyak bicara.

Ayahnya sudah berada di sana. Begitu juga dengan ibunya. Mereka duduk dengan tenang, seolah tadi malam tidak ada pertengkaran yang terjadi. Selalu saja seperti ini! Kadang ia bingung, sebenarnya bagaimana hubungan orang tuanya. Mereka bisa bertengkar hebat di satu waktu. Bisa akur di waktu lainnya.

Rheyna hanya menundukkan kepala. Tidak berniat mendekat. Takut kehadirannya akan mengganggu ketenangan yang ada di antara mereka.

"Rheyna."

Panggilan ayahnya membuat langkah Rheyna berhenti. Ia menoleh. "Kau tidak sarapan?"

"Nanti saja di kantor, aku sudah terlambat," jawabnya dengan cepat.

Ayahnya menatapnya beberapa saat. "Kau sakit?"

"Wajahmu kelihatan pucat!" Suara ibunya menimpali.

Deg

Jantung Rheyna berdebar kencang mendengar perkataan orang tuanya. Setelah sekian lama, akhirnya ia mendapat satu perhatian lagi dari orang tuanya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tidak tahu haruskah ia senang atau sedih mendengarnya?

"Aku baik-baik saja. Aku berangkat sekarang."

Hanya kalimat itu yang ia ucapkan. Rheyna langsung berjalan pergi sebelum percakapan itu berkembang menjadi sesuatu yang tidak ingin ia hadapi. Sesuatu yang mungkin membuatnya kecewa lagi setelah mendapat satu perhatian kecil itu. Lagi pula ia tidak ingin ditanya lebih jauh kenapa wajahnya pucat. Tidak ingin menjelaskan bahwa ia menangis semalaman karena sesuatu yang bahkan terjadi bertahun-tahun lalu?

Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi tempat pertama yang membuatnya belajar takut.

Rheyna memilih diam. Pergi tanpa memberi kesempatan kepada orang tuanya untuk bertanya lebih banyak lagi.


***


Seperti biasa kantor sudah mulai ramai ketika Rheyna tiba. Beberapa karyawan menyapanya. Ia membalas dengan anggukan kecil. Langkahnya langsung menuju meja kerja. Tidak menunggu waktu untuk mulai bekerja. Ia menyalakan komputer dan membuka beberapa file. Beberapa lembar kertas sudah berserakan di mejanya. Tangannya bekerja dengan sistematis. Sebentar memainkan mouse, sebentar menggores pensil di kertas yang ada di mejanya. Ia mengerjakanya dengan presisi. Mencoba lebih menyibukkan diri dari hari biasanya agar ia lupa dengan semua yang masih terbayang. Setidaknya untuk beberapa jam.

Beberapa jam berlalu, Rheyna masih menatap layar, masih mencatat beberapa hal yang harus direvisi untuk design terbaru yang sedang ia kerjakan. Tiga catatan dan dua design telah ia kerjakan. Ia berusaha menjaga fokus. Namun beberapa kali matanya kehilangan fokus. Teks di layar terlihat kabur.

Rheyna mengedipkan mata lalu menarik napas dalam. Mengabaikan tubuhnya yang butuh istirahat. Setidaknya untuk beberapa menit. Ia kembali menggerakkan tangan di atas mouse lalu kembali pada kertas di depannya. Begitu seterusnya!

Dari meja yang tidak terlalu jauh, Mita dan Fany memperhatikan. Hanya saja tidak bisa berbuat banyak.  Keduanya telah menegur Rheyna tapi temannya itu hanya tersenyum menanggapi teguran itu. Sebenarnya mereka ingin bertanya lebih, hanya saja seperti yang sudah-sudah mereka tidak akan mendapat jawaban apa pun dari Rheyna hingga mereka memilih untuk diam. Hanya memastikan dari jarak aman agar Rheyna tetap baik-baik saja selama bekerja.

Lihat selengkapnya