Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #12

12

Beberapa hari terakhir, Rheyna mulai menyadari satu hal yang tentang Andra. Pria itu tidak pernah benar-benar bertanya. Bukan karena tidak peduli. Namun sebaliknya, pria itu terlalu peduli hingga tidak  memaksa.

Ketika Rheyna datang dengan wajah pucat, Andra tidak selalu bertanya. Pria itu hanya akan menatapnya lebih lama sebelum meletakkan sebotol air mineral di sudut meja kerjanya. Tidak ada tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu.

Ketika Rheyna terlihat melamun terlalu lama di depan layar komputer, Andra tidak mengusiknya. Ia hanya menggeser dokumen yang harus dikerjakan Rheyna ke sisi meja lalu berkata, "Istirahat dulu kalau lelah."

Tidak ada tuntutan apa pun.  Andra hanya ada di sekitarnya, seolah memastikan Rheyna baik-baik saja. Dan entah kenapa, keberadaan yang tidak memaksa itu perlahan membuat Rheyna merasa aman.

Mereka mulai sering makan siang bersama. Tidak selalu ada percakapan di antara mereka. Kadang mereka hanya duduk berseberangan di meja kantin yang agak jauh dari keramaian. Bahkan disela makan, mereka sesekali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Andra makan sesekali membaca sesuatu di ponselnya. Rheyna pun begitu. Kadang Rheyna membawa buku sketsa kecil untuk menggambar. Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Tetapi tidak juga terlalu dekat. Hanya dua orang yang kebetulan merasa nyaman berada dalam diam yang sama.

Siang itu, Rheyna tanpa sadar menatap Andra lebih intens dari biasanya. Keningnya mengerut dalam. Bibirnya terbuka sebentar sebelum menutup lagi. Seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani untuk menyuarakan hal itu.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?

Rheyna sempat terkesiap dengan pertanyaan Andra. Ia kira Andra tadi fokus dengan ponselnya hingga tidak akan sadar saat ia menatapnya dengan lekat. Untuk sejenak ia terdiam tapi tanpa sadar ia akhirnya menyuarakan isi kepalanya."Kau memang selalu begini?"

Andra mengangkat wajah, mengalihkan fokusnya dari ponsel lalu menatap Rheyna. "Begini bagaimana?"

"Tidak banyak bicara dan bertanya?" tanyanya. Ia diam sebentar seolah berpikir sebelum melanjutkan pertanyaannya. "Tap aku rasa kau tidak seperti itu. Yang aku lihat selama ini kau biasa bicara di depan banyak orang. Bercanda dan tertawa dengan yang lain. Hanya saja, kenapa saat kau bersamaku, kau lebih diam dan tidak banyak bicara.

Andra tersenyum kecil. "Mungkin karena aku tahu rasanya ditanya sesuatu saat aku sendiri belum siap menjawabnya."

Rheyna terdiam! Kalimat sederhana itu entah bagaimana menetap lama di kepalanya dan membuatnya semakin nyaman berada di dekat Andra.

Perlahan tapi pasti, kehadiran Andra mulai mengikis tembok tinggi yang selama ini Rheyna bangun. Pria itu hadir dengan caranya sendiri. Tidak mendesaknya untuk bercerita. Tidak pula bertanya. Hanya ada di sana! Perhatian kecil yang Andra tunjukkan selalu tepat baginya. Pria itu terlalu paham kapan harus memberikan kehangatan dengan hadirnya, dan tahu kapan harus memberi Rheyna ruang untuk bernapas, sendiri.


***


Malam itu, rumah kembali menjadi tempat yang ingin Rheyna hindari. Pertengkaran orang tuanya terdengar bahkan sebelum ia benar-benar membuka pintu kamar.

"Kau puas sekarang?"

"Puas tentang apa?"

"Kau mempermalukan sepupuku di depan koleganya. Kau merebut tender yang harusnya menjadi miliknya."

Surya tersenyum sinis, "Kau bisa semarah ini hanya karena sepupumu kehilangan satu tender? Sedangkan kau terlihat santai saat suamimu dipermalukan di depan keluarga besarmu," desisnya di hadapan istrinya.

"Tender itu terbuka untuk siapa saja yang ingin menanganinya. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapat tender itu. Aku mendapatkan dengan cara yang legal."

Lihat selengkapnya