Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang

Asihdias
Chapter #13

13


Sore hari, setelah sebagian besar karyawan meninggalkan kantor, Rheyna masih duduk di kursinya. Mejanya sudah bersih, kertas-kertas dan catatan sudah dibereskan. Tangannya menggenggam tas yang masih ada di atas mejanya. Sebenarnya ia sudah siap untuk pulang. Hanya saja entah mengapa ia enggan beranjak, seperti ada yang mengganjal, ia takut jika ia langsung pulang, ia akan kehilangan kesempatan itu. Tetapi jika ia tinggal, siapkah ia membuka luka yang ia coba sembunyikan selama ini?

Andra tersenyum kecil melihat bagaimana Rheyna terlihat bimbang dan gugup di kursinya. Perlahan tapi pasti ia mendekat ke arah Rheyna. Menepuk pelan bahu Rheyna yang membuat wanita itu tersentak kaget.

"Jika memang kau belum siap untuk bercerita, tidak apa-apa. Aku bisa menunggu. Kapan pun waktunya, kau bisa memberi tahuku," ujar Andra saat Rheyna melihat ke arahnya. Bibirnya kembali mengulas senyum. Mencoba menenangkan kebimbangan wanita di hadapannya. "Atau jika kau ingin menceritakan hal itu bukan padaku tapi pada orang lain, tidak apa-apa."

"Terima kasih karena telah mengerti," gumam Rheyna, ia menunduk. Tidak berani menatap wajah Andra yang masih tersenyum ke arahnya. Merasa malu karena ia yang meminta, ia juga yang mengingkari.

"Sudahlah! Tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang sekarang. Kantor juga sudah sepi," ujarnya seraya terkekeh pelan. Mencoba mencairkan suasana yang terasa lebih canggung di antara mereka.

Rheyna hanya mengangguk pelan. Ia mengikuti Andra yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Begitu sampai di parkiran, Andra berbalik. "Hati-hati di jalan."

"Huum! Terima kasih!"

Setelah berpamitan, keduanya berjalan ke arah yang berlawanan. Rheyna berjalan ke arah motornya, sedangkan Andra ke arah mobilnya. Andra sudah akan masuk ke dalam mobil saat Rheyna memanggilnya.

"Andra!"

Andra menoleh dan mendapati Rheyna sudah berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak langsung menjawab. Hanya berdiri dan menunggu.

"Aku ... Aku ..."

Andra tersenyum lagi. Dari nada dan terbatanya suara Rheyna, ia tahu Rheyna ingin mengatakan sesuatu. "Rhey! Jika kau memang belum siap. Tidak apa-apa. Jangan memaksakan dirimu sendiri," ujarnya setelah mendengar Rheyna mulai bicara terbata-bata.

"Bukan begitu! Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri." sanggah Rheyna. Ia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan. "Dan aku yakin jika sekarang memang waktunya."

"Kau yakin?"

"Ya, karena jika bukan hari ini, aku tidak yakin lagi bisa menceritakan semuanya padamu di lain waktu. Jika itu bukan sekarang, aku takut keberanianku tidak akan datang lagi. Mungkin aku akan menyimpannya sendiri selamanya."

Melihat keteguhan dalam nada suara Rheyna membuat Andra tertegun sebentar sebelum ia mendekat ke arah wanita di depannya. "Baiklah! Jika kau yakin, mari kita bicara," ajaknya.

Andra mengambil langkah lebih dulu. "Kita sebaiknya bicara di taman depan saja! Bagaimana?" tanyanya sesekali menoleh ke arah Rheyna yang berjalan di belakangnya.

"Di mana pun tidak masalah."

Andra menggeleng pelan mendengar jawaban Rheyna. Ia kira setelah sedikit lebih terbuka padanya, wanita ini akan bisa mengeluarkan pendapatnya. Berkomentar lebih atas ajakannya atau apa pun itu. Nyatanya ia salah. Rheyna tetaplah Rheyna.

Tidak sampai sepuluh menit mereka berjalan, mereka sudah tiba di taman yang dimaksud Andra. Keduanya duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Terlihat beberapa orang juga berada di sana. Duduk seperti mereka, ada juga yang berjalan santai di sekitar taman, entah bersama teman ataupun pasangan.

Untuk beberapa menit, hanya keheningan yang ada di antara mereka. Suara kendaraan yang melintas terdengar dari kejauhan. Rheyna sesekali melirik ke arah Andra, tangannya saling meremas, jelas tampak gugup. Ia ingin bicara tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.

"Ini ..."

Andra menyodorkan sebotol minuman ke arah Rheyna. "Minumlah dulu! Bicaralah saat kau sudah tenang."

"Kelihatan jelas ya, jika aku gugup?"

"Tergambar dari raut wajahmu dan tanganmu yang tidak bisa diam dari tadi," ujar Andra sembari tersenyum. "Ini ambil," kata Andra lagi karena Rheyna belum juga menerima minuman yang ia sodorkan.

"Terima kasih!" Akhirnya Rheyna mengambil minuman itu. Menatapnya sebentar sebelum meminumnya. Rasa manis asam memenuhi rongga mulutnya sebelum membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Terasa menyegarkan. Setelahnya, Rheyna memandangi kedua tangannya sendiri. Cukup lama! Seakan menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.

"Jika memang kau tidak tahu harus mulai dari mana, maka biar aku yang memulainya dengan pertanyaan. Bagaimana?" tanya Andra. Ada keteduhan yang tampak di wajahnya saat menatap Rheyna.

"Boleh?"

Lihat selengkapnya