Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #1

PROLOG

“Bagaimana para saksi, sah?”

“SAH!”

Suara itu menggema memenuhi ruangan, disusul senyum haru dan mata-mata yang mulai berkaca. Telapak-telapak tangan terangkat ke langit, mengiringi doa-doa terbaik bagi dua insan yang baru saja dipersatukan.

Di bawah langit yang seakan ikut mengamini, kalimat-kalimat penuh harap meluncur lembut dari setiap bibir, memohon kepada Sang Kuasa agar rumah tangga yang baru dibangun hari itu senantiasa dipenuhi cinta, ketenangan, dan kebahagiaan hingga akhir waktu.

Pengantin perempuan menundukkan kepala pelan, jemarinya bergetar kecil saat sang suami menggenggam tangannya untuk pertama kali setelah akad terucap sah. Hangat. Nyata. Sebuah sentuhan sederhana yang kini membawa makna berbeda.

Di sudut ruangan, isak haru mulai terdengar samar. Beberapa tamu mengusap mata, sementara senyum tak henti-hentinya terlukis di wajah keluarga kedua mempelai. Hari itu bukan sekadar tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi juga tentang dua keluarga yang dipersatukan dalam ikatan yang sama.

Sang suami menatap perempuan di hadapannya dengan sorot mata lembut, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi. Perempuan itu membalas dengan senyum kecil yang malu-malu, pipinya memerah di balik riasan yang menghiasi wajahnya.

“Mas…” lirih pengantin perempuan, suaranya hampir tenggelam oleh riuh ucapan selamat di sekitar mereka.

Laki-laki di hadapannya tersenyum kecil. “Hm, iya?”

Perempuan itu menunduk malu sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku masih nggak nyangka… sekarang kita benar-benar sudah menikah.”

“Tapi ini nyata.” Jemari pria itu menggenggam tangannya lebih erat, hangat dan menenangkan. “Mulai hari ini, semuanya kita jalani bareng.”

Pengantin perempuan tertawa kecil, matanya mulai berkaca. “Kalau nanti aku banyak merepotkan gimana?”

“Ya aku hadapi.”

“Kalau aku ngambek?”

Lihat selengkapnya