Begitulah anak pertama.
Seringkali mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Namaku Nachia Nina. Biasa dipanggil Chia.
Usiaku delapan belas tahun. Tahun ini, aku akan menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas dan melanjutkan perjalanan ke perguruan tinggi. Aku mulai memasuki fase krusial dalam hidup ini. Aku berada di ambang dilema antara berbagai pilihan dan pertimbangan. Aku mulai memikirkan masa depan seperti apa yang ingin kucapai.
Pagi ini cerah beriak berawan. Riuh suara anak sekolah berdatangan mulai terdengar. Tapak-tapak sepatu mereka bersahut-sahutan. Aku dan adikku, Puja namanya, memasuki gerbang sekolah yang sama. Mengenakan seragam berwarna putih abu-abu, dengan jilbab yang tersibakkan hilir-hilir angin.
SMA Pelita Mandiri, salah satu sekolah menengah atas swasta ternama di sini. Aku tidak pernah berekspektasi bahwa bunda akan menyekolahkanku dan Puja di sini. Ini termasuk sekolah dengan pembayaran SPP dan uang masuk yang cukup mahal.
"Aku ke kelas ya, Puja."
"Iya."
Tahun ini, aku sudah duduk di bangku kelas tiga, sementara Puja di bangku kelas satu. Sebentar lagi aku akan memasuki dunia baru, bukan lagi siswi namun mahasiswi. Gawatnya, aku belum memutuskan di mana dan jurusan apa yang akan aku ambil. Padahal masa itu benar-benar sudah ada di depan mataku. Entahlah darimana aku mendapat keberanian besar untuk menyepelekan dan bersantai memikirkan masa depanku ini.
Aku bingung. Pikiranku terhenti sejenak. Masa depan? Bunda sudah rela mengeluarkan uang banyak untukku bersekolah di sini dan aku malah tidak tahu harus melanjutkannya kemana. Aku terlampau bingung.
"Hai, Chia!"
Namanya Anindya, biasa dipanggil Anin. Aku dan dia sudah menjalin pertemanan hampir enam tahun lamanya. Dia selalu memberiku dukungan, begitu pun juga aku padanya. Setiap saat senyumnya selalu merekah untukku. Membuat hari-hariku diisi dengan sinar kebahagiaan yang tiada duanya.
“Kenapa sih, Chi? Ngelamun terus daritadi. Sakit?”
Anin langsung menempelkan punggung tangannya ke jidatku. Tanpa aba-aba. Aku sedikit tersentak, semuanya terjadi secara tiba-tiba.
Jujur saja, aku juga bertanya-tanya dengan pertanyaan yang sama. Mengapa aku larut dalam lamunan tadi?
“Kamu mau lanjut di mana, Nin? Ambil jurusan apa? Lewat jalur apa?” pertanyaanku sontak membombardir Anin. Ini lebih tiba-tiba dari tempelan punggung tangannya tadi.
“Selowww, Chi. Kaget aku.”
Aku menyengir, kugaruk tengkukku malu. Spontanitas itu juga membuatku kaget sendiri. Akhir-akhir ini rasanya aku tidak bisa mengenali diriku sendiri. Gamang bin aneh pokoknya.
“Aku mau ambil psikolog. Untuk kampusnya terserah, aku lebih ke kejar jurusan.”
Sesekali terdengar hembusan berat keluar dari mulut Anin.
“Kalau lewat jalur apa, palingan jalur tes. Aku ngerasa nggak mungkin bisa masuk eligible. Kalau pun masuk juga, belum tentu lolos. Ah, tapi nggak mungkin masuk sih. Prestasiku nggak ada, nilaiku juga pas-pasan.”
Anin menumpu wajahnya pada kedua telapaknya. Matanya memandang langit-langit kelas. Ah, nyatanya aku tidak sendiri. Kita sama-sama berada di ambang ragu yang sama, namun bentuk yang berbeda.
“Eh, sorry. Malah kayak curhat, hahaha.”
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa, Nin.”
Ada jeda menggantung sejenak di antara kami berdua. Biasanya, aku langsung bisa menanggapi curhatan atau cerita dari Anin. Hari ini rasanya beda. Aku sulit untuk merespon. Isi kepalaku seperti draft tulisan yang tergantung, tak berlanjut lagi lantaran sudah kehabisan kosakata.
“Kau sendiri bagaimana, Chi?” tanya Anin padaku akhirnya.
Aku menoleh padanya, dengan senyuman yang terasa begitu canggung. Selain menanggapi jawaban Anin tadi, menjawab pertanyaannya pun aku rasa tak mampu. Rasanya ingin kuacak-acak jilbabku.