Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #3

02 || ANAK TENGAH: FAUZIAH MUTIARA

Perpaduan paling sempurna: Buku, kopi, dan rintik hujan di luar jendela.

 

Dadaku terasa sesak, teramat sangat sesak. Seolah ada sesuatu yang menekannya dari dalam dan membuatku sulit bernapas. Tenggorokanku sakit, teramat sangat sakit. Menahan tangis rasanya ternyata sesakit ini. Kenapa rasa sedih dan tangis diciptakan ke dunia? Rasanya perih.

Aku langsung mengusap pipiku yang sudah mulai dibasahi setetes air mata. Aku geram dengan diriku sendiri. Entah kenapa. Rasanya seperti, mengapa aku dilahirkan ke dunia? Aku merasa seperti sampah yang dipungut orang baik. Namun pada dasarnya aku tetap sampah. Mau siapapun yang memungutnya, tempatnya sudah pasti di tempat sampah, kalau bukan di sungai, parit, pantai—jika dipikir-pikir lagi, sampah sekarang sudah tidak punya habitat tetap. Di mana mata memandang, pasti kita akan menemukan satu dua atau lebih sampah yang berserakan. Dasar ulah manusia.

TOK! TOK! TOK!

"Kak Puja!" suara Fuji membuyarkan lamunanku.

CEKLEK!

"Kenapa?"

"Lihat kacamataku nggak?"

Aku tidak tahu harus bilang apa ke adikku yang satu ini. Pikun tingkat akut. Siapa yang meletakkan kacamata di atas kepalanya kalau bukan dia sendiri? Sepertinya anak ini juga perlu berobat ingatan minus.

"Tidak tahu, tanya coba Kak Chia atau bunda." Aku masuk ke dalam kamar. Memandang kembali pada buku bacaanku.

TOK! TOK! TOK!

"Kak Puja!"

Aku mengembuskan napas panjang sebelum berjalan ke arah pintu. Baru saja aku mencoba menenangkan diri, kini Fuji datang lagi.

CEKLEK!

"Kenapa lagi?"

Fuji berdiri di depan pintu dengan rambut yang sedikit berantakan. Tatapannya menyapu wajahku sekilas sebelum bertanya,

"Tidak pergi latihan sore ini?"

Aku menyandarkan tubuh pada kusen pintu. "Tidak."

Kedua alis Fuji langsung bertaut. "Kenapa?"

Aku melirik ke luar jendela. Langit masih muram dan suara hujan terdengar memukul atap rumah tanpa jeda.

"Hujan."

Fuji mendecih pelan. Ekspresinya seolah baru saja mendengar alasan paling tidak masuk akal di dunia.

"Cemen, masa gara-gara hujan nggak pergi latihan."

Aku memutar bola mata malas. Kalau hari-hari biasanya, mungkin aku sudah membalas ocehannya dengan cubitan atau lemparan bantal. Namun sore ini aku bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar berdebat.

"Bawel."

Fuji terkekeh pelan. Bukannya pergi, anak itu malah menyandarkan bahunya pada kusen pintu dan terus menatapku.

Aku pura-pura tidak peduli. Pandanganku kembali jatuh pada buku yang tergeletak di atas kasur. Halamannya masih terbuka di tempat yang sama sejak satu jam lalu. Jangankan memahami, satu kalimat pun tidak benar-benar masuk ke kepalaku.

Suara hujan di luar terdengar semakin deras. Angin sesekali meniup tirai kamar hingga bergoyang pelan.

"Tapi serius, Kak."

Aku mengangkat kepala. "Apa lagi?"

Fuji mengernyit.

"Hari ini katanya seleksi perwakilan buat kejuaran di Bandung bulan depan."

Lihat selengkapnya