Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #4

03 || ANAK BUNGSU: FUJI SARASVATI

Anak bungsu dan segala usahanya.


Panggil saja aku Fuji. Anak bungsu yang punya banyak mimpi dan rasa penasaran yang lebih besar lagi.

Hal paling kusukai di dunia ini adalah warna kuning. Bagiku, kuning selalu identik dengan bahagia, hangat seperti matahari pagi dan riuh seperti tawa. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti warna itu, membawa rasa nyaman bagi orang-orang yang kusayangi, terutama Bunda.

Hari ini, aku tanpa sengaja mendengar sesuatu yang menurutku sangat romantis dari balik pintu kamar Bunda. Entah kenapa, pipiku langsung terasa panas. Ada sensasi aneh yang menggelitik di perutku, membuatku menahan senyum sendiri. Lucu. Rupanya jatuh hati memang bisa semenarik itu, ya? Aku jadi ingin merasakannya juga.

"Dek, Salwa."

"Iya? Kenapa, mas?"

Panggilan dari ayah menghentikan bunyi mesin jahit bunda. Sejak pagi, suara mesin jahit Bunda tak berhenti berdengung memenuhi rumah. Bahkan rasanya, Bunda hanya berhenti sejenak untuk menarik napas sebelum kembali menginjak pedalnya. Aku menduga ia akan mengeluarkan produk baru di butiknya.

"Jalan, yuk! Udah lama kita nggak pernah jalan-jalan," ajak ayah.

Ada tenggang waktu yang cukup panjang sebelum suara bunda terdengar menjawab ajakan kencan dari ayah. Kupingku rasanya semakin melebar. Kalau saja tidak memakai jilbab, mungkin telingaku sudah berubah bentuk karena terlalu lama menempel langsung di pintu kamar mereka.

Awalnya, aku cuma mau minta izin. Reya bilang ingin datang ke rumah. Kami berencana maraton drakor. Lalu aku mendengar suara Ayah memanggil Bunda. Ya sudah. Rasa penasaranku menang.

"Puja baru pergi latihan, mas. Chia juga belum pulang, katanya pergi bareng temannya. Jadi—"

"Salwa," ayah menyela penjelasan bunda.

"Iya, mas?"

"Aku mau pergi berdua. Cuma aku sama kamu."

Deg. Yang berdebar malah jantungku. Padahal yang diajak kencan jelas-jelas Bunda.

"Boleh sih, mas. Cuma Fuji bagaimana? Sendirian di rumah?"

BRUK!

Astaga. Pintu kamar mereka keburu terdorong sebelum sempat kutahan.

"Aku nggak apa-apa, bunda! Bunda sama ayah bisa pergi nge-date tanpa perlu khawatir!"

Sial, aku keceplosan. Pintu kamar bunda malah kelepasan kudobrak. Memalukan sekali.

"Bunda, Reya mau datang ke rumah. Hehehe, mau nonton drakor bareng. Boleh, ya? Soal makan, bunda nggak perlu khawatir. Aku udah pesan makanan. Jada ayah sama bunda nggak perlu mikirin aku. Pergi yang lama juga tidak apa-apa!"

Bunda menggeleng sambil menahan tawa. Ayah bahkan terang-terangan terkekeh melihat wajahku yang pasti sudah semerah tomat matang.

"Dasar anak ini," gumam bunda sembari mengusap kepalaku. "Ya sudah, kalau Reya jadi datang, jangan lupa salat dan jangan kebanyakan ngemil."

"Siap, bunda!" Aku mengacungkan jempol dengan semangat.

Lihat selengkapnya