Keluarga bukan selalu tentang siapa yang melahirkanmu, melainkan siapa yang tetap memilih tinggal ketika semua orang pergi.
Taman hari ini tak begitu ramai seperti hari libur kemarin-kemarin. Hanya ada aku, Anin, seorang anak usia kisaran lima tahun bersama kedua orang tuanya. Aku salah fokus dengan keluarga kecil mereka. Melihat mereka bercanda di bawah rerindang pohon, memoriku perlahan kembali pada masa ketika keluargaku juga hanya bertiga, yaitu aku, bunda, dan Ayah Yudha. Saat Puja dan Fuji belum hadir mengisi rumah kami.
Rumah Bunda. Begitu orang-orang menyebut rumah kami, sebab tak hanya kami yang memanggilnya bunda. Orang-orang di sekitar rumah juga memanggil wanita berhati malaikat itu dengan sebutan bunda. Bunda Salwa.
Di antara kami bertiga—anak-anak bunda—aku, Puja, dan Fuji, akulah yang paling banyak melihat perjuangan bunda. Jatuh bangunnya dia, sakit hatinya dia, sampai tangis sesaknya dia. Di balik senyum malaikatnya itu, ada penderitaan yang bertahun-tahun harus ia pikul di pundaknya.
"Jadi, kamu tidak bisa punya anak?"
Aku, Chia yang masih berusia lima tahun tak sengaja mendengar percakapan itu di ruang tamu. Waktu itu, bunda memintaku untuk main di dalam kamar tanpa mempedulikan orang-orang di luar. Aku tidak mengerti kenapa, apa alasannya. Sampai aku berhasil menangkap isi pembahasan mereka.
"Mana adikmu itu?"
"Kabur. Aku juga nggak tahu dia ke mana."
"Kabur dengan pacarnya?"
Aku memang belum benar-benar mengerti, tetapi nada bicara mereka membuatku tahu bahwa pembahasan itu bukan sesuatu yang baik. Itu sudah bukan lagi sekadar komentar pedas atau cibiran terkait bunda yang tidak bisa punya anak, tetapi juga tentang kenyataan pahit bahwa adik kandung bunda kabur bersama pacarnya. Entah ke mana mereka berdua. Tak ada yang tahu. Kepergian mereka nyaris tanpa jejak sama sekali.
Dari situ aku mulai terus bertanya pada bunda. Aku bertanya mengapa bisa ada orang yang rela meninggalkan keluarganya sendiri demi seorang lelaki. Padahal, bukankah enak saat kita bisa hidup bersama keluarga di rumah?
Aku terlalu ingin tahu, karena aku benar-benar tak habis pikir dengan keputusannya meninggalkan rumah dan memilih untuk tidak pulang kembali. Saat itu pun aku merasa malang pada diri sendiri, berharap takdir baik memihak padaku yang dari lahir tidak tahu siapa orang tua kandungku sendiri. Tidak tahu di mana rumahku. Kalau aku tahu, aku pasti akan pulang. Akan kuketuk pintu rumah itu, kuteriakkan salam sekencang-kencangnya, lalu kupeluk erat gerangan pemilik rumah. Pikirku.
Saat beranjak sedikit lebih dewasa dari itu dan mulai memahami situasi sebenarnya dari diriku, aku benar-benar ingin menarik kembali kata-kataku yang bilang bahwa aku pasti akan pulang. Sebab rasanya aku sudah tidak ingin pulang.
Aku tidak pernah menyangka bahwa ibuku bernama Salma, adik dari Bunda Salwa. Iya, adiknya. Adiknya yang telah kabur bersama pacarnya itu. Pacar? iya, ibu meninggalkanku di rumah bunda karena didesak oleh ayah biologisku sendiri. Karena ternyata, aku bukanlah anak yang kehadirannya diharapkan di dunia ini.
Kabar bahwa ibuku hamil bukanlah sebuah kabar bahagia, melainkan kabar terburuk yang perlahan-lahan menjadi bahan omongan orang-orang. Saat aku dikandung, bukanlah kebahagiaan yang ibuku rasakan, melainkan penderitaan. Ia tidak mengelus perutnya dengan harapan bahwa aku akan terlahir ke dunia atau mungkin dengan angan-angan seperti apa masa depanku nanti, melainkan dengan cacian bahkan sumpah serapah semoga aku mati saja.
Apa salahku? Bahkan saat itu, ruh saja belum ditiupkan ke dalam jasadku. Menyedihkan. Mengapa aku berhasil terlahir di situasi seperti ini?
Selama ibu hamil, katanya pacarnya itu lari entah ke mana. Tidak ada pertanggungjawaban sama sekali darinya. Aku tidak menyangka lelaki tidak bertanggungjawab itu punya label seorang ayah. Sialnya, akulah yang menjadi anaknya.
Sampai kemudian aku lahir, kata bunda, hati ibuku sudah mulai terbuka. Wajahnya langsung teduh saat melihat kehadiranku. Nachia Nina, itu adalah nama pemberian ibu padaku. Katanya, nama itu bermakna gadis mulia yang penuh dengan keanggunan.