Aku bisa berganti kota, berganti sekolah, bahkan berganti nama. Sayangnya, masa lalu tidak pernah salah mengenali wajah.
Aku tidak tahu kenapa, rasanya latihan hari ini sangatlah berat untukku. Bukan ragaku yang berat, sebab aku masih bisa melakukan chagi dan jireugi dengan baik seperti biasanya. Aku hanya merasa... entahlah. Mungkin cemas?
"Kenapa? Kau cemas sama pengumuman seleksi kejuaraannya?" Elin datang menepuk pundakku saat aku duduk sendiri di waktu latihan telah usai.
Hembusan napasku berat. Aku tidak pernah mencemaskan pengumuman itu. Aku yakin kalau aku sudah pasti akan lolos seleksi. Sangat yakin. Aku selalu percaya dengan kemampuanku sendiri. Namun kuiyakan saja pertanyaan Elin itu, sebab kurasa kepalaku terlalu berisik untuk menjelaskan ada apa aku sebenarnya. Seberisik getaran ponselku.
Menyebalkan. Aku merasa jauh lebih kuat jika di suruh keliling lapangan seratus kali ketimbang meladeni pesan-pesan yang mau berhenti itu. Sudah berapa kali aku memblokir nomornya, namun selalu saja ada nomor baru yang dia gunakan. Entah nomor siapa lagi yang dipinjamnya untuk mengganggu ketenangan hidupku sekarang.
"Nggak usah sok seleb, Puja. Minimal baca chat." Baru mendengar langkah kakinya saja aku sudah tahu siapa pemilik suara itu.
Aku dan Elin menoleh serempak. Namun aku kembali memilih untuk acuh tak acuh pada pemuda itu. Aku muak melihat tampang sok jagoannya setiap hari. Menjadi teman sekelas sekaligus teman ekskulnya sungguh laksana neraka dunia. Rasanya selalu terbakar luar dalam.
"A-aku duluan ya, Puja. Ada urusan," pamit Elin tiba-tiba.
Dia selalu saja begitu setiap kali Alan datang menghampiri. Ah, bukan hanya Elin. Banyak orang yang begitu, seperti takut dan segan pada Alan. Padahal orang seperti dia, cukup disentil egonya, dia sudah kalah.
"Saya bukan fansmu." Alan menatapku serius.
"Terus?" jawabku malas tanpa menatap wajahnya sama sekali.
"Kalau ada orang yang kirim pesan itu dibalas. Tahu adab nggak sih?"
Sial. Sudah dari kemarin-kemarin kutahan diriku untuk mengumpat di hadapan orang lain. Sudah sekuat tenaga aku tidak menyemprot orang dengan kata-kata yang menurutku sebenarnya layak mereka dapatkan. Namun orang yang sekarang berdiri di hadapanku rupanya senang sekali mengorek-orek kesabaranku.
Aku mendekatkan diriku dengannya, kutatap dia lekat-lekat tanpa berkedip sekalipun. Kedua alisku menekuk ke tengah, ujung bibir kiriku sedikit kutarik.
Sabar, Puja. Orang paling kuat bukan orang yang mampu mengalahkan musuh, tetapi dia yang bisa mengendalikan emosinya.