Jika rumah adalah tempat paling aman, maka hari ini aku ingin menjadi rumah untuk orang-orang yang kusayangi.
Aku sangat bahagia bisa tinggal bersama Ayah, Bunda, Kak Chia, dan Kak Puja. Mereka benar-benar menjadi tempat pulang terbaik setelah Mama, Papa, dan abang-abangku. Boleh, kan, kalau aku menyebut mereka sebagai rumahku? Meski, sejujurnya, relung hatiku masih sering berbisik bahwa aku tidak pantas mendapatkan semua ini.
Sore ini, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku berencana mengunjungi Mama. Aku sudah berjanji dengan Reya, kami akan pergi bersama. Aku juga sudah meminta izin kepada bunda dan ayah. Awalnya mereka tidak mengizinkan karena khawatir mama akan kembali mengamuk. Namun akhirnya aku berhasil meyakinkan mereka. Aku yakin, kali ini aku dan mama akan baik-baik saja.
"Bunda temenin, ya, Nak?"
Aku menggeleng. Rupanya bunda masih saja mencemaskanku.
"Nggak usah, bunda. Fuji bisa sendiri, kok. Nanti ada Reya juga."
"Okelah. Kalau begitu bunda masak dulu. Hati-hati, ya?"
Aku mengangguk. Kucium punggung tangan bunda sebelum melangkah keluar melewati pintu.
"Assalamualaikum, bunda."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati, nak."
Aku menunggu Reya di halaman rumah. Namun gadis itu tak kunjung datang. Detik demi detik berlalu, berubah menjadi menit. Tak lama lagi mungkin akan menjelma menjadi jam.
Tiba-tiba kulihat seorang gadis berlari dari kejauhan. Awalnya kukira itu Reya, tetapi langkahnya terlalu tergesa-gesa. Kuperbaiki letak kacamataku, mencoba mengenali sosok yang berlari seolah sedang dikejar sesuatu.
Rupanya Kak Puja.
Aku tak tahu apa yang membuatnya berlari sekencang itu. Wajahnya pucat dan dipenuhi ketakutan, benar-benar seperti seseorang yang sedang melarikan diri. Namun jelas bukan karena dikejar anjing. Kak Puja bukan orang yang mudah takut. Menghadapi preman yang membawa golok pun dia berani. Justru itulah yang membuatku semakin penasaran. Apa yang bisa membuat Kak Puja setakut ini?
"Kenapa, Kak?"
Rasa penasaranku akhirnya memaksaku bertanya, meski aku tahu Kak Puja hampir tidak pernah mau menceritakan masalahnya. Dia selalu memilih menyimpan lukanya sendirian. Padahal kami semua ada di sini. Kami semua siap mendengarkan cerita atau sekadar menjadi tempatnya mengeluh.
Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada Kak Puja, bahkan bunda dan ayah.
Sejak pertama kali Kak Puja tinggal bersama kami, aku tak pernah mengetahui alasan sebenarnya dia membenci keluarganya. Yang kutahu hanya satu, yaitu dia tak ingin pulang lagi. Dia sangat membenci kedua orang tuanya.
"Ibuku datang ke sekolah."
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, Kak Puja menjawab pertanyaanku. Namun jawaban itu justru membuatku semakin bingung.
"Ibu datang ke sekolah, Fuji." Suaranya bergetar. "Sekarang dia tahu aku sekolah di mana."