Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #8

07 || ANAK SULUNG: BINGUNG

Barangkali, prasangka adalah cara hati melindungi diri dari ketulusan yang belum pernah ia kenal.



Aku buru-buru membuka tas yang sejak tadi kusampirkan di samping bangku taman. Buku yang diberikan Aldi beberapa hari lalu masih tersimpan rapi di dalamnya.

"Emang kenapa sama halaman seratus tujuh puluh delapan?" tanyaku sambil membolak-balik halaman.

Aldi hanya tersenyum kecil. "Coba aja, kak."

Kubuka halaman 178 dengan rasa penasaran yang sejak tadi menggelitik. Sekilas tak ada yang berbeda. Sampai saat jemariku membalik sedikit ujung kertas, kulihat secarik catatan kecil menempel rapi di sana. Perlahan kulepaskan, lalu kubaca isi tulisannya.

Kalau kakak mau ikut bimbel dan terkendala di biaya, saya bisa bantu. Hubungi saya saja.

Aku terdiam. Sekali lagi kubaca kalimat itu, memastikan mataku tidak salah menangkap setiap hurufnya. Bantu biaya?

Aku mengangkat kepala, menatap Aldi yang justru tampak santai menikmati semilir angin taman. Seolah catatan itu bukan sesuatu yang aneh.

"Ini... maksudnya apa?" tanyaku pelan.

Aldi menoleh, lalu tersenyum kecil. "Ya sesuai yang ditulis."

Bukannya mendapat jawaban, kepalaku malah dipenuhi tanda tanya. Sejak awal aku mengira dia hanya sedang mempromosikan tempat bimbelnya. Wajar saja. Bukankah dia yang lebih dulu menghampiriku, memberiku brosur, lalu meminjamkanku buku ini? Kupikir semua itu hanya bagian dari caranya mencari murid agar mendapat komisi. Namun sekarang... Kalau memang tujuannya mencari keuntungan, kenapa justru menawarkan bantuan biaya? Bukankah itu malah membuatnya rugi?

Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari jawaban dari wajah laki-laki itu. Barangkali ada guratan bercanda, atau ekspresi yang menunjukkan bahwa semua ini hanya lelucon.

Sayangnya tidak ada. Tatapannya tetap setenang biasanya.

"Kenapa?" tanyaku lagi, kali ini lebih lirih.

Aldi tampak berpikir sejenak sebelum mengangkat bahu ringan. "Nggak tahu."

"Hah?"

"Aku cuma kepikiran aja."

Sesederhana itu?

Aku semakin tidak mengerti. Baru kali ini aku bertemu seseorang yang membuatku bingung bukan karena ucapan buruknya, melainkan karena kebaikannya. Entah karena memang aku yang terlalu curiga pada orang lain, atau memang laki-laki di hadapanku ini terlalu aneh.

"Memangnya aku tidak boleh membantu kakak?"

Aku menyerngit. Bukan masalah boleh atau tidaknya. Ini masalah kita baru saja saling mengenal satu sama lain. Seharusnya dia tahu kalau itu sangat aneh.

"Bukan soal boleh atau nggaknya."

"Lalu?"

"Kita baru kenal."

"Iya, memang."

Lihat selengkapnya