Ternyata obat paling efektif untuk seseorang yang kepalanya berisik adalah bercerita.
Ini adalah kali pertama aku benar-benar menuangkan semua keluh kesahku kepada orang lain. Sejak kecil, aku selalu merasa dibungkam. Jangankan diajak bercerita, didengarkan saja rasanya tidak pernah. Baru sekarang aku tahu, ternyata rasanya seperti ini.
Mungkin bercerita tidak benar-benar menyelesaikan masalah yang sedang kuhadapi. Namun, setidaknya beban yang selama ini memenuhi kepalaku terasa sedikit lebih ringan.
Aku juga tidak pernah menyangka bahwa orang pertama yang mendengarkan semua ini justru Fuji. Sejak pertama kali bertemu, kami hampir tidak pernah akur. Lebih tepatnya, akulah yang selalu menjaga jarak dan bersikap dingin kepadanya. Entah mengapa, kehadirannya selalu membuatku merasa risih, padahal dia tidak pernah melakukan apa pun yang pantas membuatku bersikap seperti itu.
Sebaliknya, dialah yang selama ini paling peduli padaku. Dia benar-benar memperlakukanku seperti seorang kakak.
Dan baru sekarang aku menyadari... betapa jahatnya aku.
Selama ini aku selalu menganggap dirinya mengganggu. Aku menepis setiap bentuk perhatian yang dia berikan, menjawab seperlunya, bahkan tidak jarang bersikap ketus tanpa alasan yang jelas. Anehnya, dia tidak pernah membalas dengan kebencian. Dia tetap datang menghampiri, tetap menyapaku seperti biasa, seolah berharap suatu hari nanti aku akan berhenti memasang tembok setinggi itu.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa sebaik itu.
Hari ini, ketika aku akhirnya menceritakan semua yang selama ini kusimpan sendirian, dia tidak menyela. Dia tidak menghakimi. Dia juga tidak memaksaku untuk segera bangkit atau berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya mendengarkan.
Sesederhana itu. Namun justru kesederhanaan itulah yang paling menyentuhku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian menghadapi semua kebisingan di dalam kepalaku. Rasanya seperti ada seseorang yang bersedia duduk di sampingku, meski tidak mampu mengangkat seluruh beban yang kupikul. Entah kenapa, itu sudah lebih dari cukup.
Aku jadi bertanya-tanya. Berapa kali selama ini aku telah melukai perasaannya tanpa kusadari? Berapa kali dia menahan kecewa hanya karena aku terus menolaknya? Dan mengapa, setelah semua sikap burukku, dia masih memilih untuk tinggal?
Aku benar-benar tidak mengerti. Yang aku tahu, hari ini aku berutang satu ucapan yang selama ini tidak pernah mampu kuucapkan.
"Terima kasih."
Mungkin kata itu belum cukup untuk membalas semua kebaikannya. Mungkin juga tidak akan pernah cukup. Tapi setidaknya, mulai hari ini, aku ingin berhenti melihatnya dengan prasangka yang selama ini kubangun sendiri. Karena ternyata, orang yang paling tulus berada di sisiku justru adalah orang yang selama ini paling sering kuabaikan.
"Dari mana dia dapat nomor kakak? Kan, Kak Puja baru punya handphone pas SMP," tanyanya setelah mendengar panjang kali lebar ceritaku.
Aku mengernyit. Selama ini aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.