Kata bunda, berandai-andai itu tidak boleh. Sebab kita bisa terjebak dalam penyesalan masa lalu, juga memupuk prasangka buruk pada takdir yang telah Tuhan tetapkan. Kata bunda, jika ada sesuatu yang disesali, cukup jadikan itu pelajaran agar langkah kita ke depan lebih hati-hati. Itu yang sedang aku usahakan.
Trauma masa kecil selalu menghantui malam-malamku. Orang-orang saat itu, bahkan keluargaku sendiri, menganggapku anak pembawa sial. Katanya, sejak aku lahir, hidup mereka dipenuhi celaka. Aku terlalu kecil untuk membantah, jadi aku memilih mempercayainya. Sejak saat itu, diam-diam aku ikut mengutuk diriku sendiri.
"Makasih, Fuji."
Entah sudah berapa kali Kak Puja mengucapkan kalimat itu sejak dia menceritakan masa lalunya dengan keluarga kandungnya. Wajahnya tampak lebih ringan, seolah ada beban yang akhirnya ia letakkan setelah sekian lama dipanggul sendirian.
"Ih, udah. Tumben kakak jadi lembut begini," godaku sambil tertawa kecil.
Ia kembali memelukku.
"Aku beruntung ketemu kamu," bisiknya lirih.
Deg. Dadaku mendadak sesak oleh haru. Selama ini aku selalu percaya bahwa kehadiranku hanya membawa kerugian bagi orang lain. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ada seseorang di luar ayah, bunda, dan Kak Chia yang mengatakan dirinya beruntung mengenalku.
Ternyata... aku tidak selalu menjadi alasan seseorang menangis. Ternyata... kehadiranku juga bisa menjadi tempat seseorang merasa pulang.
Barangkali luka memang tidak hilang dalam semalam. Kata-kata yang dulu menancap begitu dalam juga tidak akan lenyap hanya karena satu pelukan. Namun hari ini, retakan kecil mulai muncul pada keyakinan yang selama bertahun-tahun mengurungku.
Mungkin aku memang tidak pernah menjadi pembawa sial. Mungkin aku hanya terlalu lama mempercayai kebohongan yang diucapkan berulang-ulang, sampai terdengar seperti kebenaran.
"Kamu mau keluar? Kok rapi begini?" tanya Kak Puja akhirnya.
Aku mengangguk pelan. "Iya... tapi nggak jadi."
"Ke mana?"
"Ke rumah mama."
"Kenapa nggak jadi? Bukannya kamu kangen?"
"Tadi iya." Aku tersenyum tipis. "Tapi sekarang rasanya udah nggak terlalu."
"Kenapa?"
Aku menatap sekeliling rumah ini. Hangat. Ramai. Penuh suara orang-orang yang saling memanggil tanpa rasa sungkan. Rumah yang awalnya terasa asing kini perlahan menjadi tempatku pulang.
"Karena ternyata... rasa rindu juga bisa reda saat seseorang sudah menemukan rumah."
Namun, bukan berarti aku melupakan rumah yang pertama. Rumah itu masih tinggal di kepalaku. Bersama seorang mama yang selalu menggenggam tanganku, papa yang paling pandai membuatku tertawa, dan dua abang yang tak pernah membiarkanku berjalan sendirian.
Sebelum semuanya berubah. Sebelum orang-orang mulai menyebutku pembawa sial. Sebelum aku belajar membenci diriku sendiri. Saat itu... aku masih menjadi Fuji kecil yang begitu bersemangat karena akan pergi berlibur bersama mama, papa, dan kedua abangku.
"Fuji, cepetan! Nanti kita ditinggal."
"Nggak mungkin ditinggal. Kan Fuji anak paling kecil."
"Justru karena paling kecil, paling lama siapnya."
Kujulurkan lidahku sebagai balasan. Bukannya berhenti, mereka malah semakin gemas menggodaku. Mama tersenyum tipis seraya mengusap rambutku dengan lembut, lalu menggandeng tanganku menuju mobil.
"Sudah lengkap?"
"Mama?"
"Hadir."
"Abang Farhan?"
"Hadir."
"Abang Farhat?"
"Hadir."
Papa lalu menoleh kepadaku.
"Kalau putrinya papa?"
Aku mengangkat tangan setinggi mungkin.
"Hadir!"