"Kak, suka matcha?"
Aku mengembuskan napas panjang. Perpustakaan sekolah sore itu begitu lengang. Rak-rak buku berdiri diam, hanya ditemani suara kipas angin yang berputar pelan dan sesekali bunyi halaman buku yang tertiup angin dari jendela yang terbuka sedikit.
Tak ada siapa pun selain aku dan Aldi.
"Kak?" Ia memiringkan kepala, berusaha menangkap tatapanku yang sengaja kuarahkan ke buku di hadapan. "Kalau kopi?"
Aku memilih diam. Jemariku membalik halaman buku, berpura-pura begitu sibuk membaca, padahal sejak tadi tak satu pun kalimat berhasil masuk ke kepala.
"Teh?"
"Cokelat?"
"Atau susu?"
Aku menggigit bibir bawah agar tidak terkekeh. Anak ini benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. Karena tak mendapat jawaban, ia menyandarkan siku di atas meja, lalu menopang dagunya sambil terus memperhatikanku.
"Kak Nachia suka apa, sih?"
Aku tetap tak bergeming. Hening kembali memenuhi perpustakaan. Kukira akhirnya ia menyerah. Namun beberapa detik kemudian, suara kursi bergeser pelan.
"Kak."
Aku menghela napas pelan.
"Apa?"
Akhirnya. Sepasang matanya langsung berbinar.
"Nah, jawab juga."
Aku memejamkan mata sesaat. Salah. Seharusnya tadi aku tetap diam.
"Jadi kakak suka apa?"
"Keheningan."
Jawabanku membuat Aldi terdiam beberapa saat.
"Oh."
Aku kembali menunduk, merasa percakapan ini akhirnya selesai. Sayangnya, aku salah lagi.
"Berarti..." gumamnya sambil mengangguk-angguk, "aku harus diam, ya?"
"Iya."
Bukannya kecewa, Aldi malah tertawa kecil.
"Ih, susah juga, ya, dapetin perhatian kakak."
Aku menggeleng pelan. Anak ini benar-benar aneh.
"Emang dari tadi kamu nggak ada kerjaan?"
"Ada."
"Apa?"
"Menemani kakak."
Aku memijat pelipis. "Serius."
"Ya serius." Aldi mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tugasnya udah selesai. Teman-teman juga udah pulang. Tinggal kakak yang masih di sini."
Aku melirik jam dinding. Memang sudah hampir sore.
"Kakak sendiri kenapa belum pulang?"
"Belum dijemput."
"Oh."
Aku bohong. Mana ada aku dijemput, setiap hari aku pulang naik angkot. Namun ia mengangguk pelan, lalu kembali terdiam. Aku kembali membuka buku, berharap ia tidak mengeluarkan pertanyaan aneh lainnya.
"Kalau nanti aku beliin matcha, kakak mau nerima nggak?"
Aku menatapnya tanpa ekspresi. "Nggak."
"Kalau kopi?"
"Nggak."
"Kalau cokelat?"
"Nggak."
"Kalau es teh?"
"Nggak."
Ia tersenyum jahil. "Kalau aku?"
Aku menutup buku dengan sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Aldi."
"Iya, Kak?"
"Keluar."
Bukannya pergi, ia justru tertawa puas melihatku akhirnya kehilangan kesabaran.
"Nah, gitu dong. Dari tadi ekspresinya datar terus."
Aku hanya bisa menggeleng pelan. Entah kenapa, anak ini selalu berhasil membuat perpustakaan yang seharusnya tenang berubah menjadi tempat paling berisik di sekolah. Apalagi setelah aku mendapat kabar bahwa dia putus dengan pacarnya gara-gara aku. Dia semakin terlihat aneh, terlihat menyebalkan.
"Kita baru kenal, Aldi. Jadi kumohon jangan dekat-dekat. Takut jadi omongan."