Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #12

11 || ANAK TENGAH: CURIGA

Family isn't always about blood, but about the people who choose to stay.


Ibu masih terus menghubungiku. Seolah apa pun yang kulakukan, beliau selalu menemukan cara untuk kembali mengusik ketenangan yang baru saja berhasil kuraih. Bedanya, kali ini aku tidak lagi terburu-buru membuka setiap pesan yang masuk. Suara notifikasi itu sudah berhasil kubisukan.

Ternyata sesederhana itu rasanya damai.

Belakangan ini aku juga menyadari sesuatu. Selama ini aku selalu mengira diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Kupikir jika aku memendam semuanya sendiri, rasa sakit itu lama-lama akan hilang. Nyatanya tidak. Luka yang dipendam hanya tumbuh semakin dalam.

Justru setelah menceritakan semuanya kepada Fuji, dadaku terasa jauh lebih ringan. Masalahnya memang belum selesai, tetapi setidaknya aku tidak lagi menanggung semuanya sendirian. Mungkin berbicara memang tidak selalu mengubah keadaan, tetapi ia mampu mengubah cara kita menjalaninya.

Ternyata Tuhan masih memberiku takdir yang baik. Dulu aku sering bertanya-tanya, mengapa hidupku terasa begitu berat. Mengapa kebahagiaan seolah selalu memilih singgah di kehidupan orang lain, bukan di kehidupanku. Bahkan pernah, dengan begitu sombongnya, aku menganggap Tuhan tidak adil.

Padahal akulah hamba yang terlalu tergesa-gesa menyimpulkan akhir dari sebuah cerita. Coba lihat siapa yang kini berdiri di sisiku. Aku punya Bunda. Aku punya Ayah. Aku punya Kak Chia. Aku juga punya Fuji. Mereka adalah rumahku.

Dulu aku selalu gelisah karena merasa tidak memiliki tempat untuk pulang. Aku mengira rumah adalah tentang ikatan darah, tentang keluarga yang sejak lahir ditakdirkan bersama. Namun ternyata aku salah. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap menerimamu meski tahu seluruh luka yang kau bawa. Tempat di mana kehadiranmu dirindukan, bukan dianggap beban.

Dan rumah itu ada pada mereka. Tak selalu harus mengalir darah yang sama di nadi kami untuk saling menyebut keluarga.

Aku mengembuskan napas panjang. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengingat perempuan itu sebagai ibu. Entah sejak kapan panggilan itu hanya menjadi sebuah status, bukan lagi tempat untuk pulang.

Namun, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus berputar di kepalaku. Bagaimana mereka bisa tahu keberadaanku?

Nomor teleponku. Sekolahku. Bahkan jam-jam ketika aku bisa dihubungi. Semua itu bukan sesuatu yang bisa diketahui begitu saja.

Aku sudah berusaha mengingat-ingat. Apa aku pernah mengunggah sesuatu yang memperlihatkan identitas sekolah? Atau tanpa sadar membagikan informasi pribadi di media sosial?

Tidak. Kalau pun ada, rasanya tidak mungkin sampai sejauh ini. Semakin kupikirkan, semakin banyak kemungkinan yang bermunculan. Mungkin mereka memang sudah lama mencariku. Mungkin ada seseorang yang memberi tahu. Bahkan mungkin ada orang yang sengaja membawa mereka kepadaku.

Pikiran terakhir itu membuat bulu kudukku meremang. Entahlah. Yang jelas, semua ini terasa terlalu kebetulan.

Setelah bertahun-tahun tak pernah muncul, mereka tiba-tiba mengetahui hampir seluruh informasi tentangku dalam waktu yang berdekatan. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang menyusun kepingan-kepingan hidupku, lalu menyerahkannya kepada mereka.

Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir prasangka yang bahkan belum memiliki jawaban. Barangkali aku hanya terlalu banyak berpikir.

Puja

Rumahmu yang warna apa?

Aku mengernyit membaca pesan yang baru saja masuk. Alan. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap layar ponsel tanpa berkedip. Pertanyaan macam apa itu? Rumahmu yang warna apa?

Aku mendengus pelan. Orang itu memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengganggu hidupku. Setelah semua tingkah menyebalkannya di sekolah, sekarang dia malah menanyakan warna rumahku. Untuk apa?

Aku menggulir ke atas, memastikan tidak ada pesan sebelumnya yang mungkin membuat pertanyaan itu masuk akal. Tidak ada. Hanya satu kalimat pendek yang membuat dahiku semakin berkerut.

Kupencet tombol daya hingga layar ponsel kembali gelap. Persetan dengan budak cinta itu. Kalau dia berharap aku akan panik atau membalas pesannya, dia salah orang. Aku tidak punya tenaga untuk meladeni tingkah kekanak-kanakannya. Lagi pula, kenapa aku harus memberitahunya?

Aku bangkit dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamar. Aroma tumisan dari dapur langsung menyambut penciumanku.

Lihat selengkapnya