Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #13

12 || ANAK BUNGSU: KELUARGA

"Yakin bisa pergi sendirian? Tunggu ayah aja ya, Fuji? Bunda khawatir."

Bunda menatapku dengan raut cemas yang tidak berhasil ia sembunyikan. Tangannya masih sibuk merapikan kerudungku yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Entah sudah berapa kali bunda memastikan semuanya baik-baik saja. Mulai dari dompet, ponsel, hingga uang di sakuku.

Aku tersenyum kecil. Kekhawatiran bunda memang selalu seperti itu. Bahkan untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh sekalipun, ia akan memastikan kami benar-benar siap.

Aku menggeleng pelan.

"Nggak apa-apa, Bunda. Fuji bisa kok. Lagian ayah masih lama pulangnya."

"Tapi nanti kalau kenapa-kenapa gimana?" tanya bunda lagi, masih belum benar-benar yakin.

"Insyaallah nggak kenapa-kenapa. Fuji cuma bentar di rumah mama, habis itu langsung pulang."

Bunda mengembuskan napas panjang. Tatapannya masih dipenuhi keraguan, seolah sedang menimbang antara mengizinkanku pergi atau tetap memintaku menunggu ayah.

"Kalau gitu jangan lupa kabarin bunda begitu sampai, ya."

"Iya."

"Kalau ada apa-apa langsung telepon."

Aku terkekeh pelan. "Iya, Bunda."

Bunda akhirnya ikut tersenyum, meski rasa khawatir itu masih tampak jelas di wajahnya. Tangannya mengusap pelan kepalaku, seperti yang selalu bunda lakukan setiap kali aku hendak keluar rumah.

"Hati-hati di jalan."

"Iya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Aku melangkah keluar rumah sambil melambaikan tangan kecil. Dari balik pintu, bunda masih berdiri memperhatikanku sampai aku benar-benar keluar dari halaman.

Terkadang aku merasa bunda terlalu mengkhawatirkanku. Namun, aku tahu kekhawatiran itu lahir bukan karena bunda menganggapku tidak mampu, melainkan karena dia begitu menyayangiku. Dan bagiku, memiliki seseorang yang menungguku pulang dengan perasaan cemas seperti itu adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana.

"Lho? Fuji? Mau ke mana?"

Aku menoleh saat seorang pengendara sepeda berhenti tepat di sampingku. Ternyata Kak Puja. Di keranjang depan sepedanya ada kantong plastik berisi beberapa bungkus belanjaan. Sepertinya baru saja pulang dari warung membeli titipan bunda.

"Mau ke rumah mamaku, Kak."

"Nggak bareng temenmu?"

Aku menggeleng pelan. Hari ini Reya tidak bisa menemaniku. Katanya ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

"Bareng aku aja, naik sepeda."

Aku sempat melirik jalan yang membentang di depanku. Sebenarnya aku sudah bertekad pergi sendiri. Lagi pula rumah mama tidak terlalu jauh dari sini. Namun, kalau dipikir-pikir, mengayuh sepeda bersama Kak Puja juga tidak buruk.

"Boleh?"

"Ya boleh, lah." Kak Puja terkekeh. "Emangnya aku nawarin siapa?"

Aku ikut tertawa kecil. Kak Puja turun dari sepedanya, lalu menepuk-nepuk jok belakang.

"Naik."

Aku segera duduk di boncengan sambil memegang sisi jok agar tetap seimbang. Begitu memastikan aku sudah duduk dengan benar, Kak Puja mulai mengayuh sepedanya perlahan meninggalkan halaman rumah.

"Untung aku lewat sini," gumamnya.

"Iya. Kalau nggak, Fuji jalan kaki."

"Bunda ngizinin?"

"Awalnya bunda nyuruh nunggu ayah pulang. Tapi Fuji bilang bisa pergi sendiri."

Kak Puja hanya mengangguk pelan. "Wajar kalau bunda khawatir."

"Hehehe, iya."

Angin sore berembus pelan menerpa wajahku. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya sesekali motor dan mobil melintas dari arah berlawanan. Dari boncengan, aku memperhatikan punggung Kak Puja yang terus mengayuh sepeda dengan santai.

"Fuji."

"Hm?"

"Senang, ya?"

Aku sedikit memiringkan kepala. "Senang kenapa?"

"Bisa ketemu mama."

Senyumku tanpa sadar mengembang.

"Iya."

Aku selalu senang saat bertemu mama. Mau dalam keadaan apapun itu. Walau dia memberontak atau mungkin bertanya siapa aku, aku tetap mencintainya. Aku juga yakin sebenarnya mama juga mencintaiku, ingatanlah yang merenggangkan kami. Karena itu aku tidak pernah marah. Aku tidak pernah kecewa. Aku hanya memilih untuk memperkenalkan diriku lagi dan lagi.

Aku percaya, jauh di lubuk hatinya, mama masih menyayangiku. Insiden itu mungkin berhasil menghapus banyak kenangan, tetapi tidak serta-merta menghapus kasih sayang yang pernah tumbuh di sana.

Kalaupun suatu hari mama benar-benar tidak bisa mengenaliku lagi, tidak apa-apa. Aku akan tetap datang. Tetap menggenggam tangannya. Tetap menceritakan hari-hariku, meski dia mungkin akan melupakannya beberapa menit kemudian.

Karena mencintai seseorang tidak selalu tentang diingat. Terkadang, mencintai berarti tetap memilih hadir, meski hanya kita yang masih mengingat semua kenangan itu.

"Assalamualaikum, Bi Inah. Mama di dalam?"

Kami telah sampai di rumah mama. Rumah yang menjadi tempat masa kecilku tertawa bersama papa, mama, dan abang kembar.

"Waalaikumsalam, Neng Puji. Duh, nyonya lagi nggak ada di rumah."

Sebelum sempat turun dari boncengan, aku dan Kak Puja saling berpandangan.

"Nggak ada?" ulang Kak Puja pelan.

Bi Inah mengangguk kecil sambil membuka pagar lebih lebar untuk kami.

"Iya, Neng. Sejak kemarin, nyonya tinggal di rumah saudaranya."

"Rumahnya Tante Anna?" tanyaku spontan. Bi Inah menjawab dengan anggukan kepala.

"Masuk dulu aja, yuk," ajak Bi Inah. "Bibi baru selesai masak."

Aku menoleh ke arah Kak Puja, meminta pendapat. Kak Puja setuju-setuju saja.

Lihat selengkapnya