Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #14

13 || ANAK SULUNG: LIBURAN

Biasanya orang-orang memilih pergi berlibur setelah menyelesaikan ujian, sebagai hadiah atas semua lelah yang telah dilewati. Keluargaku justru kebalikannya. Mereka mengajakku berlibur sebelum ujian dimulai. Unik, memang.

Kata ayah, sebelum bertempur dengan rumitnya lembar demi lembar soal, pikiranku perlu diajak bernapas lebih dulu. Bukan untuk melupakan ujian, melainkan untuk mengisi tenaga dan menenangkan hati agar bisa menghadapinya dengan kepala yang lebih jernih.

Pagi itu kami melaju menuju pantai. Semakin dekat dengan tujuan, aroma laut mulai terbawa angin yang masuk melalui jendela mobil. Hamparan biru perlahan menggantikan deretan bangunan di sepanjang jalan. Debur ombak yang terdengar samar dari kejauhan seolah menjadi sambutan hangat atas liburan kecil yang sudah lama kami nantikan.

Kupandangi ayah dan bunda yang sesekali saling melempar candaan dari kursi depan. Senyum mereka membuatku sadar bahwa mungkin benar, sebelum menghadapi ujian, yang paling kubutuhkan bukan hanya belajar lebih keras, tetapi juga menghabiskan waktu bersama orang-orang yang selalu menjadi rumah.

Tak butuh waktu lama hingga mobil kami akhirnya berhenti di tepi pantai. Angin laut langsung menyambut dengan semilir yang sejuk, membawa aroma asin yang khas. Debur ombak berpadu dengan tawa para pengunjung, menciptakan suasana yang begitu hidup.

Ayah segera menurunkan tikar, kursi lipat, dan beberapa kotak perbekalan dari bagasi. Sementara itu, bunda mulai menyiapkan peralatan masak yang sengaja dibawa dari rumah.

"Ayo, Chia. Temani bunda masak," panggilnya.

"Siap, Bun."

Aku segera menghampiri bunda. Kami membagi tugas tanpa perlu banyak bicara. Bunda sibuk menyalakan kompor portabel dan mengolah bumbu, sedangkan aku mencuci bahan-bahan, memotong sayuran, lalu menyiapkan piring dan peralatan makan. Sesekali angin pantai bertiup cukup kencang hingga membuat jilbabku beterbangan dan aroma masakan ikut terbawa ke udara.

Memasak di alam terbuka ternyata memberikan kesan yang berbeda. Diiringi suara ombak yang tak pernah berhenti berkejaran dengan bibir pantai, pekerjaan sederhana itu terasa jauh lebih menyenangkan. Sesekali bunda mengajakku mengobrol, lalu kami tertawa ketika angin iseng meniup tisu hingga hampir hanyut.

Mungkin benar, kebahagiaan tidak selalu datang dari tempat yang mewah. Kadang, ia hadir lewat masakan sederhana yang dibuat bersama orang-orang yang paling kita sayangi, ditemani semilir angin laut dan langit biru yang membentang tanpa ujung.

"Chia, ada yang kurang."

Aku menoleh pada bunda. Keningku berkerut. Rasanya tidak ada yang terlewat. Aku masih ingat betul semua barang yang kumasukkan ke bagasi mobil pagi tadi. Selama memasak pun, tak ada satu pun bahan yang terasa kurang.

"Apa, bun? Ikan bakar kesukaan ayah sama bunda ada. Nasi ada. Sayur kesukaannya Puja sama perkedel kesukaan Fuji juga ada." Jemariku bahkan menunjuk satu per satu hidangan yang tersusun rapi di atas tikar.

"Oh, iya! Minumnya belum ada!"

Aku menepuk jidatku.

"Udah ada air putih, sih. Tapi pasti Puja mau minum kopi nanti."

Aku meraih tas jinjingku. "Aku mau pergi beli kopi di warung sana, bunda. Bunda mau nitip sesuatu?"

Bunda menggeleng pelan.

"Bunda nggak nitip apa-apa."

"Yakin?"

"Iya."

Aku mengangguk kecil, lalu kembali memandangi hidangan yang tersusun rapi di atas tikar. Rasanya masih ada yang mengganjal. Aku menghitungnya sekali lagi dalam hati.

"Ikan bakar buat Ayah sama Bunda, sayur buat Puja, perkedel buat Fuji..." gumamku pelan.

"Kalau gitu aku sekalian beli kopi buat Puja, sama es teh buat ayah. Bunda mau jus jeruk, kan?"

Bunda hanya menatapku tanpa menjawab.

Lihat selengkapnya