Liburanku hari ini hancur. Beberapa menit yang lalu kami masih tertawa bersama di tepi pantai. Fuji sibuk bercanda, Chia menikmati udang kesukaannya, sementara ayah dan bunda saling berebut potongan ikan bakar. Rasanya tidak ada yang kurang. Lalu ponselku bergetar. Puluhan notifikasi masuk tanpa henti.
Awalnya kupikir hanya gangguan jaringan. Namun saat layar ponsel berhasil kubuka, napasku langsung tertahan. Ada pesan yang terkirim dari akunku. Padahal aku sama sekali tidak mengirim apa pun.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku buru-buru membuka aplikasi lain. Semuanya terasa aneh. Ada riwayat login yang tidak kukenal. Beberapa kata sandi berubah. Bahkan akun media sosialku mengunggah sesuatu yang tidak pernah kubuat.
Tanganku mendadak dingin.
"Mustahil..."
Aku langsung mengganti kata sandi, tetapi gagal. Kucoba lagi. Tetap gagal. Seseorang sudah lebih dulu mengambil alih akunku. Rasa panik perlahan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku membuka aplikasi pelacak perangkat, berharap masih bisa mengamankan ponselku. Namun yang kutemukan justru membuat darahku serasa berhenti mengalir.
Lokasi perangkatku sedang aktif. Artinya seseorang bisa mengetahui keberadaanku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku refleks menyapu sekeliling pantai. Orang-orang masih menikmati liburan mereka. Anak-anak berlarian mengejar ombak. Beberapa keluarga sibuk memanggang ikan.
Semuanya tampak biasa. Justru itu yang membuatku semakin takut.
Bagaimana jika orang yang meretas ponselku sedang berada di sekitar sini? Bagaimana jika sejak tadi mereka memperhatikanku? Atau... memperhatikan keluargaku?
Aku menggenggam ponsel itu begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.
"Puja?" Suara ayah membuyarkan lamunanku.
"Kok melamun?"
Aku buru-buru mematikan layar ponsel.
"Nggak... nggak apa-apa."
Bohong. Jelas ada apa-apa. Dadaku terasa sesak. Napasku mulai tidak beraturan. Aku tidak ingin merusak suasana liburan ini. Tidak ingin membuat bunda panik atau Fuji ketakutan.
Namun aku juga tidak mungkin diam. Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa jangan-jangan... ini ulah ibu atau bapak? Tidak. Aku langsung menggeleng pelan. Rasanya tidak mungkin. Mereka bahkan sering memintaku mengajarkan cara mengunduh aplikasi atau mengirim dokumen lewat ponsel. Mustahil mereka tiba-tiba memiliki kemampuan meretas akun seseorang.
Lalu... Kakak-kakakku?
Aku kembali terdiam. Kemungkinan itu pun terasa jauh dari kenyataan. Mereka memang lebih paham teknologi dibanding orang tuaku, tetapi sampai bisa mengambil alih akun, mengubah kata sandi, bahkan mengakses lokasi perangkat?
Tidak. Mereka bukan orang seperti itu. Kalau begitu siapa?
"Kak Puja," panggil Fuji dengan berbisik.
"Kenapa, Fu—hmppp!"
Fuji tiba-tiba membekap mulutku. Dia menarikku ke tempat yang lebih tersembunyi, yang sedikit lebih jauh dari keramaian pantai.
Jantungku tiba-tiba berdetak begitu kencang. Aku semakin merasa cemas. Kurasa situasi sekarang sudah semakin buruk.
Aku mematung. Pandanganku bergantian menatap wajah Fuji, lalu sosok-sosok yang berdiri beberapa meter di depanku. Ibu, bapak, dan tiga kakakku.
Mereka berdiri berjejer dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada pula yang terlihat marah. Hanya diam... seolah sedang menungguku muncul.
"Fu..." suaraku bergetar.
Fuji melepaskan tangannya dari mulutku. Bocah itu ikut menelan ludah sebelum menjawab.
"Mereka keluarganya Kak Puja, kan?"
Aku menoleh pada Fuji. "Darimana kamu tahu?"
"Mereka tadi nyariin kakak. Mereka nyari..."
"Jia."
Aku kembali menatap mereka. Kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan. Jangan-jangan... Tidak. Tidak mungkin.
Namun bayangan itu telanjur muncul. Bagaimana jika semua yang terjadi pada ponselku memang ada hubungannya dengan mereka?
Tanganku menggenggam ponsel semakin erat. Layar yang sejak tadi padam tiba-tiba menyala sendiri. Sebuah notifikasi baru muncul.
Perangkat lain berhasil masuk ke akun Anda.
Aku refleks menahan napas. Belum sempat kubaca lebih jauh, ponsel itu kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Kau sembunyi di mana Jia?
Mataku membelalak. Jari-jariku langsung membeku di atas layar. Belum sempat rasa takut itu mereda, pesan kedua menyusul.
Kemari. Kami sudah menemukanmu.
Deg. Bulu kudukku berdiri.
Aku perlahan mengangkat kepala. Tatapanku kembali bertemu dengan ibu dan bapak yang masih berdiri di tempat yang sama. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku ingin menoleh. Benar-benar ingin. Tetapi seluruh tubuhku seperti kehilangan keberanian untuk bergerak.
"Aku takut, Fuji."
Erat kupeluk tubuh adikku itu. Aku benar-benar sangat ketakutan. Sebenarnya aku bisa saja langsung menghantam mereka dengan kekuatan yang sekarang aku punya. Tidak seperti dulu, seorang yang lemah, yang selalu kena hantam setiap melakukan sesuatu yang menurut mereka salah.
Namun ternyata Tuhan masih membuat hatiku berfungsi. Aku masih punya rasa tidak tega, walau orang-orang itu tak pernah sama sekali peduli perasaanku.
>>>()<<<
Aku tidak mau menikah.
Siapa yang mau menikah di usia yang masih begitu belia? Aku bahkan belum lulus SMP. Orang gila mana mau membangun rumah tangga di saat dia bahkan belum benar-benar mengenali dirinya sendiri?
Namun, pendapatku tidak pernah dianggap penting. Suaraku tidak pernah didengarkan, seperti angin yang akan selalu berlalu.
Hari itu, sepulang sekolah, ibu memanggilku ke ruang tamu. Di sana sudah ada bapak dan seorang lelaki yang tampak usianya jauh di atasku. Wajahnya asing, senyumnya membuatku tidak nyaman.
"Eh, Jia. Salim dulu."
Aku berdiri mematung di ambang pintu. Seragam sekolahku bahkan belum sempat kuganti. Ransel masih menggantung di bahu, sementara jemariku mencengkeram talinya begitu erat hingga terasa nyeri. Pandanganku berpindah dari lelaki asing itu kepada ibu dan bapak yang duduk di sampingnya.
Tidak ada satu pun wajah yang terlihat canggung. Seolah-olah kehadiranku di ruangan itu memang hanya untuk melengkapi sebuah kesepakatan yang telah mereka buat tanpa melibatkanku.
"Salim," ulang bapak, kali ini dengan suara yang lebih tegas.
Aku melangkah pelan. Tanganku terulur dengan ragu hingga lelaki itu menyambutnya sambil tersenyum.
"Anaknya cantik," katanya.
Aku segera menarik tanganku. Entah kenapa, senyum itu membuat dadaku terasa sesak.
"Duduk."
Aku menurut. Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di atas kepala kami.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
"Ibu..." panggilku lirih. "Sebenarnya ada apa?"