Rumah Bunda

Asbihany Fany
Chapter #16

15 || ANAK BUNGSU: PULANG

Satu hal yang kupahami malam itu, rumah bukanlah tempat seseorang dilahirkan.

Rumah adalah tempat yang membuatmu merasa aman untuk tetap tinggal.


"Kami cuma mau Jia pulang ke rumah."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir salah seorang anggota keluarga Kak Puja. Bapaknya. Sederhana, tetapi mampu membuat suasana di sekitar kami berubah seketika.

Pada akhirnya, kami memang dipertemukan dengan keluarga lama Kak Puja. Tak pernah kubayangkan pertemuan itu akan terjadi di tengah hamparan pantai yang beberapa saat lalu masih dipenuhi tawa para wisatawan.

Kini, tak ada lagi yang menikmati deburan ombak ataupun semilir angin laut. Suasana benar-benar memanas. Bukan hanya karena teriknya matahari yang menyengat kulit siang itu, melainkan juga karena perdebatan yang terus memanas di antara kedua belah pihak. Di satu sisi berdiri keluarga yang telah melahirkan Kak Puja. Di sisi lain, keluarga kami—keluarga yang selama ini menerima, merawat, dan menganggapnya sebagai bagian dari rumah.

Tak seorang pun mau mengalah. Masing-masing merasa memiliki alasan yang paling benar untuk mempertahankan Kak Puja.

"Kami orang tua Jia, yang melahirkan dan membesarkannya sampai seperti sekarang. Bukankah ini sama saja dengan penculikan kalau kalian tidak mau memulangkannya kepada kami?" ujar bapaknya dengan suara lantang.

Ayah mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosinya.

"Penculikan?" ulangnya pelan. "Tolong jangan asal tuduh."

"Kenyataannya memang begitu! Jia tinggal bersama kalian selama ini."

"Anak bapak tinggal bersama kami karena dia datang meminta perlindungan," balas ayah tanpa menaikkan nada suara. "Kami tidak pernah mengambilnya dari rumah kalian. Kami juga tidak pernah menyembunyikannya."

"Itu tetap tidak mengubah fakta bahwa dia anak kami!"

"Dan itu juga tidak mengubah fakta bahwa dia pergi dari rumah karena ulah kalian."

Wajah bapak Kak Puja mengeras. Rahangnya mengatup rapat seolah berusaha menahan sesuatu.

"Itu urusan keluarga kami."

"Justru karena itu urusan keluarga, kami tidak pernah ikut campur sejak awal," sahut bunda. "Kami hanya membuka pintu ketika ada seorang anak yang datang dengan ketakutan. Apa kami harus mengusirnya begitu saja?"

"Tapi kalian membiarkannya menjauh dari kami!"

Bunda menggeleng pelan.

"Tidak. Kami tidak pernah melarang Fauziah kembali. Kami hanya tidak pernah memaksanya."

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Angin pantai bertiup pelan, tetapi tak mampu meredakan panasnya perdebatan. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, sementara beberapa lainnya hanya memandangi kami dengan rasa penasaran.

Ayah menatap lurus ke arah bapak Kak Puja.

"Kalau hari ini Puja memilih pulang bersama bapak, kami tidak akan menghalanginya."

Semua orang terdiam.

"Tapi kalau dia memilih tetap bersama kami, jangan paksa dia. Dia bukan barang yang bisa diperebutkan. Dia manusia yang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri."

Ucapan ayah membuat semua mata serentak beralih kepada Kak Puja. Perempuan itu masih berdiri membeku. Air mata telah memenuhi pelupuk matanya sejak tadi. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Keputusan tidak berada di tangan orang-orang yang terus berdebat. Melainkan di tangan Kak Puja sendiri.

"Aku tidak mau pulang."

"DURHAKA KAMU!"

Bentakan bapaknya itu menggema di sepanjang bibir pantai. Wajah pria itu memerah. Dengan napas memburu, ia melangkah cepat ke arah Kak Puja sambil mengangkat tangannya.

"Setelah semua yang kami lakukan, berani-beraninya kamu menolak orang tuamu sendiri! Kau pikir apa yang telah kau lakukan setelah kabur dari rumah hari itu! Bikin malu!"

Belum sempat tangan itu mencapai Kak Puja, ayah bergerak lebih dulu. Dengan sigap ia menahan pergelangan tangan pria itu.

"Cukup!" suara ayah mengguntur. "Jangan sentuh putri saya!"

Di saat yang bersamaan, bunda segera menarik Kak Puja ke belakang tubuhnya. Tanpa ragu bunda memeluknya erat.

"Sudah... sudah, nak," bisik bunda sambil mengusap kepala Kak Puja yang mulai terisak. "Bunda di sini."

Tangis Kak Puja pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di dalam pelukan bunda. Aku benar-benar melihat sisi lain dari Kak Puja yang tegas itu. Dia yang kukenal paling pemberani, nyatanya juga seorang gadis yang penuh rasa takut.

"Lepaskan saya!" bentak bapaknya sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman ayah. "Dia anak saya!"

Lihat selengkapnya